Lo Kheng Hong melepas sebagian cuan-nya di saham sawit Grup Salim.
Pada 14 April 2026, investor yang identik dengan gaya value investing itu menjual total 8,18 juta lembar saham PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) senilai Rp7,54 miliar. Transaksi dilakukan dalam dua tahap: 1,37 juta lembar di harga Rp925 per saham, sisanya 6,81 juta lembar di Rp920 per lembar.
Bukan angka kecil.
Akibat penjualan ini, kepemilikan Lo di SIMP melorot dari 5,03% ke 4,97%, setara 771,01 juta lembar. Angka 5% bukan sekadar batas psikologis, ah, bukan, bukan em dash. Angka 5% punya arti konkret: itu ambang kewajiban pelaporan ke otoritas bursa. Begitu turun ke bawahnya, jejak pergerakan Lo jauh lebih susah dilacak publik.
Yang bikin transaksi ini ramai diperbincangkan: penjualan dilakukan dengan keuntungan di atas 100% dari harga perolehan awal. Klaim yang patut dicermati, mengingat SIMP selama bertahun-tahun lebih sering bikin investor nyangkut ketimbang cuan. Saham ini sempat terkapar cukup lama, pemulihannya lambat dan tidak dramatis. Tapi rupanya cukup buat Lo.
Masif? Bisa jadi.
Per penutupan hari yang sama, SIMP diperdagangkan di Rp845 per lembar, naik Rp30 atau sekitar 3,68%. Agaknya kabar transaksi Lo ikut jadi katalis, setidaknya di level sentimen. Entah kebetulan atau tidak, pergerakan itu terjadi di hari yang sama dengan beredarnya informasi penjualan.
Lo Kheng Hong dikenal tidak banyak bicara soal kapan masuk dan kapan keluar. Ia beli waktu orang lain panik, jual waktu harga sudah mencerminkan nilai. Apakah SIMP sudah sampai di titik itu baginya? Harga yang ia terima sudah menjawab.