RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  MBG Jalan Lagi, Harga Ayam dan Telur di Bandung La...

Ekonomi

MBG Jalan Lagi, Harga Ayam dan Telur di Bandung Langsung Melonjak

Sejak program Makan Bergizi Gratis kembali beroperasi pasca-libur sekolah, harga daging ayam dan telur di pasar tradisional Bandung merangkak naik signifikan, memicu keluhan pedagang yang mengaku tidak menikmati manfaat program tersebut.

MBG Kembali Berjalan, Selamat Tinggal Daging Ayam dan Telur Murah

Liburan sekolah usai, dapur MBG kembali mengepul, dan harga ayam serta telur di pasar tradisional Bandung langsung bergerak naik. Bukan kebetulan. Para pedagang sudah hafal polanya.

Pemantauan di sejumlah pasar tradisional Kota Bandung pada Selasa (21/7/2026) mencatat kenaikan yang cukup mencolok. Di Pasar Kosambi, daging ayam melonjak dari Rp 33.000 menjadi Rp 37.000 per kilogram. Di Pasar Cicaheum, harganya mencapai Rp 36.000 per kg. Telur pun tidak ketinggalan: dari Rp 20.000 naik ke kisaran Rp 24.500 hingga Rp 24.900 per kilogram. Di Pasar Astanaanyar, daging sapi ikut terkerek dari Rp 135.000-150.000 menjadi Rp 140.000-160.000 per kilogram, sementara ayam broiler menyentuh Rp 38.000 per kg.

Semua kenaikan itu terjadi dalam tempo kurang dari sepekan sejak tahun ajaran baru dimulai dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali beroperasi.

Polanya terbaca jelas bahkan oleh pedagang di lapangan. Sofyan (54), pedagang ayam di Pasar Kosambi, menuturkan bahwa harga dari distributor di kawasan Lembang, Bandung Barat, langsung naik begitu dapur MBG aktif kembali. "Kami sama sekali tidak merasakan manfaat MBG, tetapi harus menanggung dampak kenaikan harga," ujarnya. Pedagang telur di pasar yang sama, Agus, mengamini. Saat MBG libur, harga telur turun ke Rp 20.000 per kg. Begitu program berjalan lagi, harga balik ke Rp 24.900. Naik-turun sesuai jadwal sekolah, hampir seperti jam tayang.

Hermawan (55), pedagang daging di Pasar Astanaanyar, menjelaskan mekanismenya secara gamblang. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) selaku operator dapur MBG berbelanja langsung ke distributor, bukan ke pedagang pasar tradisional. Akibatnya, lonjakan permintaan di level distributor menular ke harga yang diterima pedagang eceran. "SPPG ini langsung belanjanya ke distributor, jadi kita ikut harga di distributor juga. Kayak kemarin MBG enggak jalan, di sananya stok banyak, harganya jadi turun," ujar Hermawan.

Atep Gunawan (60), pedagang telur di Pasar Astanaanyar, bahkan sudah bisa membaca ke mana arah angin. Selama kurang lebih setahun program MBG berjalan, harga telur pernah menyentuh di atas Rp 30.000 per kilogram. Kenaikan sekarang, katanya, baru permulaan. Harga merayap naik Rp 500 hingga Rp 1.000 per hari sejak sekolah masuk. Kecil per hari, tapi bisa jadi lumayan menyengat dalam sebulan.

Pertanyaannya, sejauh mana ini murni soal permintaan-penawaran?

Pengamat ekonomi Universitas Pasundan Acuviarta Kartabi menilai gejala ini sudah terbaca sejak Oktober 2025. Ia memetakan dua sumber tekanan harga: lonjakan permintaan riil dari dapur-dapur MBG yang beroperasi serentak, dan yang agak mengkhawatirkan, spekulasi oleh sebagian pelaku rantai pasok. "Ada pedagang atau distributor yang menaikkan harga dengan alasan stok berkurang. Di beberapa tempat stok benar-benar menipis, tapi ada juga yang memanfaatkan momentum," ungkap Acuviarta.

Beda sudut pandang datang dari akademisi. Guru Besar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Imamudin Yuliadi justru membaca kenaikan harga ini sebagai sinyal pasar yang sehat, setidaknya selama tidak ada gangguan distribusi atau praktik spekulatif. Harga yang sedikit lebih tinggi, menurutnya, justru memberi insentif bagi petani dan peternak untuk menggenjot produksi. "Dorongan permintaan pangan untuk MBG merupakan sinyal positif bagi pelaku ekonomi, terutama petani dan peternak, karena berpotensi meningkatkan pendapatan mereka," kata Imamudin. Fokus pemerintah, ia tegaskan, bukan menekan harga secara paksa, melainkan memastikan pasokan tersedia dan distribusi lancar, termasuk ketersediaan pupuk dengan harga terjangkau agar keuntungan dari kenaikan harga benar-benar sampai ke tangan petani.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sebelumnya sudah menyentil soal ini. Tingginya permintaan dari MBG, kata Dedi, harus diimbangi peningkatan produksi secara menyeluruh: ikan, daging, telur, sayur, hingga beras, seiring pembukaan investasi di sektor pertanian.

Atep dan pedagang pasar tradisional lainnya punya permintaan yang lebih sederhana tapi bermakna: libatkan kami dalam rantai pasok MBG. Selama pembelian hanya melalui distributor besar, pasar tradisional cuma menanggung ongkos kenaikan harga tanpa menikmati kue permintaannya. Bagi mereka, ini bukan soal teori ekonomi. Ini soal siapa yang akhirnya bayar tagihan program makan siang gratis itu.