Saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) tiba-tiba bergairah pagi ini, Selasa (8/9/2026), setelah kabar tak resmi beredar bahwa perusahaan nikel milik konglomerat Garibaldi Thohir itu tengah mempertimbangkan penjualan depositary receipts di Bursa Hong Kong. Harga sahamnya sempat melonjak hampir 8% ke kisaran Rp 545-Rp 550, diiringi lonjakan volume transaksi yang cukup mencolok di sesi pagi.
Sumber Bloomberg yang mengetahui rencana ini menyebut nilai dan waktu pelaksanaan transaksi masih dalam tahap pembahasan. Belum ada kepastian. MBMA sendiri belum memberikan tanggapan resmi. Pasar sudah bereaksi duluan, dan agaknya itulah yang jadi cerita hari ini.
Langkah yang sedang dijajaki MBMA bukan tanpa preseden di lingkaran grup yang sama. PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), yang juga bernaung di bawah PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), sudah lebih dulu membuktikan bahwa rute Hong Kong bisa berhasil. Pada Juni 2026, EMAS menghimpun sekitar HK$ 2,4 miliar atau sekitar US$ 306 juta melalui penerbitan Hong Kong Depositary Receipts. Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja.
Konteksnya penting. IHSG sudah amblas 23% sepanjang tahun ini, menjadikannya indeks dengan kinerja terburuk di antara indeks-indeks utama kawasan Asia-Pasifik. Likuiditas domestik tipis, imbal hasil kurang menggairahkan. Wajar kalau emiten-emiten besar mulai melirik jalur lain untuk menghimpun modal. MBMA bukan satu-satunya, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) juga disebut-sebut tengah mempertimbangkan pencatatan saham di Hong Kong.
Dari sisi fundamental, MBMA memang menanggung beban ganda. Harga sahamnya sudah tergerus sekitar 10,5% sepanjang tahun ini, dihajar sekaligus oleh penurunan harga komoditas logam dan kenaikan biaya sulfur, bahan input kunci dalam produksi nikel kelas baterai. Dua tekanan sekaligus. Sementara kebutuhan investasi untuk mengembangkan rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik terus ada. Kapitalisasi pasarnya saat ini berada di kisaran US$ 3,1 miliar, atau sekitar Rp 49 triliun.
Hong Kong memang sedang aktif membangun diri sebagai magnet bagi perusahaan ASEAN. Data InvestHK menunjukkan jumlah perusahaan ASEAN yang mendapat pendampingan mereka untuk masuk ke Hong Kong naik hampir 30% di semester I 2026 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Hong Kong pun pada Juli 2026 mulai menguji coba sistem kliring dan penyelesaian transaksi logam mulia melalui Hong Kong Precious Metals Central Clearing Company, sebuah ekosistem yang relevan langsung bagi produsen komoditas seperti MBMA maupun EMAS.
Satu hal yang patut dicermati: skema depositary receipts tidak berarti emisi saham baru. Seperti yang diterapkan EMAS, penerbitan HDR menggunakan saham dasar milik pemegang saham lama, sehingga tidak ada dilusi kepemilikan bagi investor publik yang sudah ada. Bagi pemegang saham MBMA yang sudah nyangkut, ini bisa jadi kabar yang sedikit melegakan, setidaknya itu klaim yang beredar secara teknis.
Pertanyaannya sekarang: apakah rencana ini akan berjalan mulus hingga eksekusi, atau sekadar menjadi katalis sesaat yang mengangkat harga lalu menghilang? Bagi investor ritel, mungkin jawaban atas pertanyaan itu yang paling krusial sebelum ikut-ikutan masuk.