RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Minyak Sawit Sentuh Level Tertinggi Nyaris Sebulan...

Ekonomi

Minyak Sawit Sentuh Level Tertinggi Nyaris Sebulan, Perang AS-Iran Jadi Katalis

Harga CPO melonjak ke 4.635 ringgit per ton di Bursa Malaysia, level tertinggi sejak 23 Juni, terseret naik oleh eskalasi konflik militer AS-Iran yang ikut mendongkrak harga minyak mentah global.

Minyak Sawit Naik ke Level Tertinggi, Imbas Eskalasi AS-Iran - Sektor Riil

Kontrak berjangka minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives naik 0,9% ke kisaran 4.635 ringgit per ton, menorehkan level tertinggi dalam hampir sebulan. Di dalam negeri, harga CPO bertahan di atas Rp15.500 per kilogram, sementara Palm Kernel Oil (PKO) di Dumai melonjak ke Rp32.675 per kilogram.

Katalisnya jelas: AS dan Iran kembali saling serang. Serangan militer bolak-balik yang sudah berlangsung hampir seminggu ini sudah meluas ke jembatan, fasilitas pelabuhan, hingga infrastruktur utilitas. Prospek gencatan senjata yang bulan lalu sempat ditandatangani kini tinggal nama.

Kenaikan ini berjalan beriringan dengan lonjakan harga minyak mentah Brent. Wajar. Pasar komoditas minyak nabati mengikuti gerak minyak bumi karena keduanya bersaing sebagai bahan baku biodiesel sekaligus pangan, dan pasar jarang butuh alasan lebih dari itu untuk bergerak.

"Kebangkitan kembali harga minyak mentah dan premi risiko perang menyusul situasi yang meningkat di Timur Tengah menjadi pendorong utama," kata Sathia Varqa, analis senior di Fast Markets Palm Oil Analytics. Bukan kali pertama konflik geopolitik mendorong CPO ke zona hijau, tapi intensitas kali ini berbeda: serangan sudah menyentuh infrastruktur sipil, bukan sekadar target militer.

Bagi emiten perkebunan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, angka ini bisa jadi angin segar. Harga di level 4.600-an ringgit memberi ruang margin yang lebih lega, terutama bagi produsen yang cost of production-nya sudah tertekan inflasi pupuk dan logistik selama dua tahun terakhir. Entah kebetulan atau tidak, beberapa saham sektor ini sudah mulai bergerak lebih aktif dalam sepekan terakhir.

Pertanyaannya: seberapa lama? Kalau konflik mereda dan minyak mentah kembali amblas, CPO biasanya tidak butuh waktu lama untuk ikut terkoreksi. Selama situasi di Timur Tengah belum ada kepastian, premi risiko itu kemungkinan masih akan menempel di harga, setidaknya itu yang terbaca dari pergerakan pasar sekarang.