Stok Minyakita di lapangan kritis. Bulog terang-terangan mengakuinya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah pekan ini, dan dampaknya sudah merambat ke harga minyak goreng curah yang terkerek lebih dari Rp500 per liter hanya dalam hitungan minggu.
Sepanjang tahun ini Perum Bulog telah mendistribusikan Minyakita sebanyak 92 ribu kiloliter. Sekitar 45 persennya, atau 41 ribu kiloliter, disalurkan ke pasar SPHP dan pasar rakyat. Angka yang sebenarnya tidak kecil. Tapi di lapangan, barangnya entah ke mana.
"Minyakita komersial di beberapa wilayah memang sangat terbatas, belum ada tambahan pasokan lagi dari produsen," kata Kepala Divisi Perencanaan Operasi dan Analisis Harga Bulog Muhammad Wawan Hidayanto dalam rapat tersebut, Senin (27/4). Kendalanya bukan cuma pasokan yang mandek dari produsen. Biaya distribusi juga mencekik, terutama untuk wilayah kepulauan dan pegunungan.
Untuk menjangkau Papua Pegunungan, minyak harus transit dulu ke Jayapura sebelum diteruskan ke pedalaman. Ongkos logistik berlapis ini langsung menggerus margin, sementara subsidi angkut dari produsen dinilai masih jauh dari cukup. Maluku dan Papua paling keras merasakannya, diperparah oleh minimnya gudang distribusi dan keterbatasan modal mitra penyalur di daerah.
Efek berantainya tak butuh waktu lama. Sekretaris Jenderal Kemendagri Tomsi Tohir menilai kelangkaan Minyakita mendorong masyarakat beralih ke minyak goreng curah. Bak gayung bersambut dengan tekanan dari sisi penawaran, lonjakan permintaan curah itu langsung memukul harga. Data BPS menunjukkan minyak goreng curah sudah naik 3,24 persen pada pekan keempat April menjadi Rp18.870 per liter, dari Rp18.277 per liter bulan sebelumnya.
Rp23.550 per liter. Itu harga minyak goreng kemasan bermerek 1 berdasarkan data Bank Indonesia melalui PIHPS, sementara merek 2 berada di kisaran Rp22.750 per liter. Kondisi ini terpantau di sejumlah pasar tradisional, termasuk kawasan Ciputat, Tangerang Selatan. BPS mencatat rata-rata nasional minyak goreng kemasan premium naik 1,68 persen menjadi Rp22.650 per liter, sedangkan Minyakita sendiri hanya merayap tipis ke Rp16.357 per liter, meski barangnya susah dicari.
Kemendag menyebut kenaikan bahan baku kemasan plastik sebagai salah satu faktor penekan harga. Tapi Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Nawandaru Dwi Putra mengakui faktor itu tidak cukup untuk menjelaskan lonjakan minyak curah yang melampaui Rp500 per liter dalam waktu singkat. Kesimpulannya mengarah ke satu titik: pasokan Minyakita yang tersendat adalah biang keroknya.
Menariknya, Nawandaru justru mempertanyakan narasi kelangkaan itu sendiri. Berdasarkan catatan Kemendag, hampir 40 persen stok Minyakita nasional, setara 193.236 ton, ada di tangan Bulog. Secara agregat, barangnya ada. "Jangan sampai seakan-akan Minyakita ini tidak ada barangnya," tegasnya, sambil mengingatkan bahwa klaim kelangkaan dari Bulog bisa memicu persepsi pasar yang kontraproduktif.
Di NTB, Satgas Pangan Polda setempat mengklaim situasi masih relatif terkendali. Harga Minyakita di titik-titik distribusi yang dipantau dilaporkan masih di bawah HET Rp15.700 per liter. Pengawasan rantai distribusi diperketat hingga ke level pengecer untuk mencegah penimbunan.
Masalahnya sederhana tapi klasik: stok ada, tapi tidak sampai ke tangan yang butuh. Kalau data ini bisa dipercaya, distribusi nasional sebenarnya tidak separah yang terkesan. Tapi angka di atas kertas tidak akan banyak artinya bagi ibu rumah tangga yang antre di pasar, selama logistik antarwilayah masih jadi bottleneck yang tidak kunjung diperbaiki.