RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Modal Asing Serbu SRBI, tapi Saham RI Tetap Diting...

Ekonomi

Modal Asing Serbu SRBI, tapi Saham RI Tetap Ditinggal

Investasi portofolio asing membukukan net inflows US$8,5 miliar di kuartal II 2026, namun hampir semuanya parkir di SBN dan SRBI. Pasar saham masih sepi, IHSG terancam terlalu murah.

BI Agresif Serap Likuiditas, Outstanding SRBI Tembus Rp1.072 Triliun

Kuartal II 2026 menjadi periode yang agak ironis bagi pasar keuangan Indonesia: uang asing mengalir deras masuk, tapi mayoritas tidak mampir ke pasar saham.

Bank Indonesia mencatat aliran investasi portofolio asing pada kuartal II 2026 menembus net inflows US$8,5 miliar, jauh lebih besar dari data sementara US$3,9 miliar yang dilaporkan pertengahan Juni lalu. Pembalikan tajam dari kuartal pertama yang masih membukukan net outflows US$0,8 miliar. Bukan angka kecil.

Gairah itu, sayangnya, terpusat di fixed income. Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur Juli 2026, Rabu (22/7), menyebut arus masuk tersebut terutama ditopang Surat Berharga Negara dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia. Strategi BI menaikkan yield SRBI secara agresif, kata Perry, jadi faktor utama yang mendorong investor asing kembali ke instrumen domestik.

Data membenarkan klaim itu. Outstanding SRBI tembus Rp1.072,62 triliun per akhir Juni 2026, rekor tertinggi sejak instrumen ini pertama diterbitkan September 2023. Lonjakan bulanannya Rp92,74 triliun atau 9,46% dibanding Mei. Secara tahunan, posisinya melonjak 37% dari Rp782,97 triliun di Juni 2025.

Yang lebih mencolok: kepemilikan asing. Nonresiden kini menggenggam Rp293,16 triliun SRBI per akhir Juni, sekitar 27,33% dari total outstanding. Rekor baru, melampaui puncak Oktober 2024 sebesar Rp262,17 triliun. Hanya dalam satu bulan, porsi asing bertambah Rp76,68 triliun atau 35,42%. Dihitung dari setahun lalu, pertumbuhannya mencapai 54,25%. Angka yang tidak main-main.

Penariknya jelas: yield. Pada lelang 26 Juni, imbal hasil SRBI tenor 12 bulan tercatat 7,70%, naik hampir 78 basis poin hanya dalam sebulan. Tenor enam bulan dan sembilan bulan masing-masing di 7,36% dan 7,54%. Yield setinggi ini, ditambah upaya stabilisasi nilai tukar oleh BI, memberikan bantalan yang cukup menggoda bagi investor asing, meski risiko kurs rupiah belum sepenuhnya hilang. Tren positif berlanjut ke awal kuartal III: net inflows portofolio asing mencapai US$0,1 miliar hingga 20 Juli, terutama dari SBN.

Sisi lain cerita ini yang patut dicermati, kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya: pasar saham masih jadi pelabuhan yang ditinggal. Laporan BRI Danareksa Sekuritas menunjukkan investor asing masih net sell di pasar saham sebesar US$166 juta hingga 13 Juli 2026. Lebih rendah dari beberapa bulan sebelumnya, tapi arahnya belum berbalik. Akibatnya, valuasi IHSG tergerus ke level yang, entah kebetulan atau tidak, justru semakin tidak masuk akal murahnya dibandingkan prospek fundamental emiten.

Pola ini bisa dibaca dua arah. Optimistisnya, ketika diferensial yield mulai menyempit dan rupiah lebih stabil, sebagian dana asing yang kini parkir di SRBI berpotensi bergeser ke ekuitas, bak gayung bersambut. Pesimistisnya, selama carry trade di instrumen rupiah semenarik ini, saham harus bersabar lebih lama. Pertanyaannya tinggal soal waktu: seberapa lama investor asing mau memarkir dana di obligasi sambil membiarkan IHSG tergeletak di valuasi diskon?