RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Modal Asing Serbu Tiga Instrumen Sekaligus, Rupiah...

Ekonomi

Modal Asing Serbu Tiga Instrumen Sekaligus, Rupiah Berbalik Menguat Pasca BI Rate 5,50%

Total Rp45,92 triliun modal asing mengalir deras ke SRBI, SBN, dan obligasi Danantara dalam hitungan hari setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan. Rupiah pun berbalik arah.

Rupiah menguat jadi Rp17.930 per dolar AS pada Jumat pagi

Tiga hari setelah Bank Indonesia menaikkan BI rate ke 5,50 persen pada 9 Juni lalu, yang ditunggu pasar akhirnya datang: modal asing mengalir masuk deras, dan rupiah mulai berbalik arah.

Pada penutupan Jumat (12/6/2026), rupiah bertengger di Rp17.865 per dolar AS, menguat 0,84 persen dibanding posisi penutupan 5 Juni di Rp18.010. Bukan sekadar angka harian biasa. Ini konfirmasi bahwa kenaikan suku bunga BI bekerja sesuai kalkulasi bank sentral, setidaknya untuk sementara.

Rp45,92 triliun. Itu total inflow yang masuk melalui tiga instrumen hanya dalam dua hari perdagangan. Rinciannya: pada 10 Juni, investor nonresiden membeli SRBI senilai Rp15,11 triliun. Sehari berselang, aliran ke Surat Berharga Negara mencapai Rp3,91 triliun. Sisanya berasal dari penerbitan perdana obligasi internasional Danantara yang berhasil menghimpun Rp26,9 triliun. Angka yang tidak main-main.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyebut perkembangan ini sebagai cerminan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan bank sentral. Bukan cuma soal kenaikan suku bunga. BI juga memperkuat struktur imbal hasil SRBI, membuka insentif hedging swap bagi investor asing, dan memperluas akses repo untuk menjaga likuiditas perbankan. "Perkembangan ini mencerminkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan BI. Langkah-langkah tersebut juga didukung oleh sinergi yang erat antara BI dan pemerintah," kata Destry dalam keterangan tertulisnya.

Di sisi diplomasi moneter, BI bergerak bersamaan. Kesepakatan dengan People's Bank of China dan Hong Kong Monetary Authority menghasilkan tiga poin strategis: penguatan ketahanan keuangan antarnegara, perluasan Bilateral Currency Swap Agreement, serta dorongan penggunaan mata uang lokal lewat skema Local Currency Transaction. Agaknya ini bagian dari upaya jangka panjang mengurangi ketergantungan pada dolar, meski hasilnya tidak akan terasa dalam sepekan dua pekan.

Bagi pelaku pasar yang sejak awal tahun nyangkut di posisi rupiah lemah, data ini setidaknya memberi sedikit napas. Pertanyaannya, berapa lama momentum ini bisa bertahan sebelum pasar kembali gelisah mencari pemicu berikutnya?