Sepanjang pekan yang berakhir 25 Juli 2026, Wall Street dihantui satu pertanyaan yang semakin keras: sampai kapan pasar harus sabar menunggu AI menghasilkan uang?
Nasdaq Composite amblas 2% dalam sepekan, membukukan pelemahan dua pekan beruntun. S&P 500 terkoreksi 0,6%, Dow Jones Industrial Average melemah 0,4% dan mencatat penurunan tiga pekan berturut-turut. Di sesi penutupan Jumat (24/7), angkanya bicara sendiri: Nasdaq turun 161,87 poin atau 0,64% ke 24.975,82, S&P 500 menguat tipis 3,68 poin ke 7.411,98, dan Dow naik 235,60 poin ke 51.947,25.
Pemantik utamanya Alphabet dan Tesla. Alphabet tergerus 7% setelah menaikkan proyeksi belanja modal 2026 menjadi sekitar US$200 miliar, angka yang membuat pertumbuhan cloud-nya yang sebetulnya solid tenggelam begitu saja. Tesla lebih parah. Anjlok 14,5% setelah melaporkan arus kas bebas negatif untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun, diperparah kekhawatiran soal permintaan kendaraan yang meredup. Dua laporan itu langsung mengubah suasana pasar jelang rilis keuangan Microsoft, Amazon, Meta, dan Apple pekan depan.
"Investor mulai bertanya-tanya, bagaimana kita harus memahami semua pengeluaran ini, dan berapa lama lagi kita harus bersabar sebelum benar-benar melihat investasi tersebut menghasilkan keuntungan nyata?" kata Peter Andersen, CEO Andersen Capital Management. Menurutnya, FOMO yang selama ini menopang valuasi saham teknologi kini berubah rupa: "Rasa takut ketinggalan peluang kini mulai berubah menjadi kekhawatiran terhadap pembangunan kapasitas yang terlalu besar."
Indeks semikonduktor Philadelphia (SOX) jadi barometer paling volatile pekan ini. Sempat melonjak lebih dari 5% pada Selasa setelah Micron, Western Digital, dan Sandisk mencatat kenaikan dua digit, ditambah Super Micro Computer yang melesat hampir 20% berkat pesanan baru melampaui US$60 miliar. Pemulihan itu tidak bertahan. Jumat, SOX berbalik jatuh 4,5%. Intel jadi korban paling ironis: proyeksi laba dan pendapatan kuartal melampaui ekspektasi analis, tapi sahamnya tetap tergerus hampir 8% karena investor lebih fokus ke rencana belanja yang makin besar dan tingginya biaya bersaing di segmen chip canggih.
Minyak ikut menambah kerumitan. Brent menembus US$100 per barel di tengah pekan setelah ketegangan AS-Iran memuncak, naik dari kisaran US$68 di awal Juli. Kenaikan itu mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS ikut terkerek, memberikan tekanan ganda bagi saham-saham pertumbuhan: nilai kini dari laba masa depan merosot, sementara obligasi tiba-tiba terlihat lebih menarik. Maskapai, perusahaan logistik, dan bisnis konsumen pun kena tampar. Jumat, harga minyak berbalik turun sekitar 3% setelah aksi ambil untung dan muncul laporan bahwa China mendorong pembicaraan damai AS-Iran. Konflik belum selesai, tapi pasar setidaknya bisa bernapas.
Andersen mengingatkan, konflik Timur Tengah akan terus menjadi variabel yang sulit digenggam. "Apa pun perkembangan berita terkait konflik saat ini akan menggerakkan harga minyak, dan harga minyak kemudian akan memengaruhi pasar keuangan," katanya, seraya menambahkan bahwa fluktuasi harga energi bisa langsung menghantam belanja konsumen maupun pengeluaran korporasi.
Dua bintang tetap bersinar. Digital Realty Trust melonjak 11% setelah menaikkan proyeksi dana operasional tahunan, mengangkat sektor properti menjadi yang terkuat hari itu dengan kenaikan 2,4%. International Paper melesat 11,2% dan menjadi saham dengan kenaikan terbesar di S&P 500 pada Jumat, diikuti Smurfit Westrock yang juga menguat 11,1%. SLB, perusahaan jasa ladang minyak, turut melonjak 11% setelah laba kuartal II melampaui estimasi analis.
Volume transaksi Jumat hanya 15,03 miliar saham. Jauh di bawah rata-rata 20 hari terakhir sebesar 18,22 miliar saham. Banyak pelaku pasar agaknya memilih menahan diri, menunggu babak berikutnya: laporan keuangan raksasa teknologi yang, apa pun hasilnya, akan menentukan apakah pertanyaan soal "kapan AI mulai balik modal" akhirnya punya jawaban.