Rp834,4 triliun. Angka itu bukan sulap, bukan rekayasa statistik. Realisasi penerimaan pajak Januari-Mei 2026, tumbuh 22,1% dibanding periode sama tahun lalu, jauh melampaui laju pertumbuhan ekonomi yang masih berkutat di kisaran lima persen.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku sempat deg-degan melihat setoran PPh badan yang cuma tumbuh 5,1% pada April. Kekhawatiran itu ternyata prematur. Mei datang dengan lonjakan 23,9% pada PPh badan, membawa realisasinya ke Rp167,6 triliun. "Kekhawatiran saya sebelumnya bahwa perusahaan pada bangkrut ternyata salah, ternyata mereka cukup sehat pertumbuhannya," ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Juni 2026.
Yang bikin mata terbelalak adalah kinerja PPN dan PPnBM: Rp315,7 triliun, tumbuh 41,3%. Purbaya menyebutnya cermin konsumsi masyarakat yang masih terjaga, sekaligus jawaban atas kritik bahwa pertumbuhan ekonomi hanya ada di atas kertas. Coretax, sistem perpajakan yang sempat diragukan di awal tahun, diklaim mulai bekerja lebih stabil. "Data ini menunjukkan perbaikan ekonomi betul-betul sedang terjadi, pemerintah tidak bohong," kata Purbaya.
Belanja negara pun tidak kalah impresif. Januari-Mei 2026, realisasinya menembus Rp1.365,4 triliun, tumbuh 34,4% secara tahunan. Purbaya menegaskan pemerintah sengaja mendorong belanja merata sepanjang tahun, tidak lagi menumpuk di kuartal keempat seperti kebiasaan lama yang membuat stimulus fiskal datang terlambat. "Kami ingin belanja terjadi merata sepanjang tahun, tidak hanya di triwulan keempat saja," tuturnya. Belanja K/L menyerap Rp517,7 triliun atau tumbuh 58,9%, didorong program Makan Bergizi Gratis (MBG), bansos, dan pembayaran THR.
Bicara soal MBG, program ini berganti nakhoda. Nanik Sudaryati Deyang dilantik Presiden Prabowo Senin (8/6/2026) menggantikan Dadan Hindayana yang tersangkut kasus korupsi. Kepala Badan Gizi Nasional baru itu langsung membawa angin perubahan: moratorium dapur baru, refocusing penerima manfaat ke kalangan yang benar-benar membutuhkan, dan efisiensi anggaran tanpa memotong kualitas gizi. Per hari pelantikannya, jumlah dapur yang beroperasi tercatat 27.877 titik. Tidak ada rencana ekspansi dalam waktu dekat.
Rabu (10/6/2026) jadi sesi yang cukup melegakan di lantai bursa. IHSG ditutup menguat 2,71% ke posisi 5.902, nilai transaksi menyentuh Rp31,72 triliun. Saham-saham bank Himbara jadi motor penggerak. BBCA melesat 5,83% ke Rp5.450, BBRI naik 2,15% ke Rp2.850, dan BMRI menguat 1,96% ke Rp4.170. Tapi ada yang mengganjal. Investor asing justru melakukan aksi jual besar-besaran: net foreign sell BBRI Rp461,46 miliar, BBCA Rp279,71 miliar, BMRI Rp165,94 miliar. Reli ini ditopang domestik, bukan asing.
Rupiah ikut memompa semangat pasar. Kurs spot menguat ke Rp17.944 per dolar AS, berbalik dari rekor terlemah Rp18.188 yang tercatat Senin (8/6). Bank Indonesia, yang pada hari yang sama menaikkan BI Rate 25 basis poin, mendapat momen tepat. Gubernur Perry Warjiyo bahkan berani pasang proyeksi: rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.800-Rp17.500 per dolar AS pada 2027, ditopang membaiknya ekonomi global dan kebijakan sentralisasi ekspor komoditas melalui Danantara.
Aksi korporasi besar juga mewarnai sesi ini. PT Astra International Tbk (ASII) mengumumkan rencana buyback saham senilai Rp8 triliun, dijadwalkan dimulai 20 Juli 2026 setelah mendapat restu RUPSLB pada 17 Juli. Bukan respons panik terhadap tekanan harga, melainkan bagian dari strategi peningkatan total shareholder return jangka panjang sesuai arahan Jardine Matheson. Kalau seluruh dana terserap, EPS ASII diproyeksikan naik dari Rp146 menjadi Rp149 per saham. Agaknya Jardine sudah cukup muak melihat saham ASII amblas 30,9% sejak awal tahun.
Kabar berbeda datang dari PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP). BEI resmi menyuspensi perdagangan sahamnya setelah perseroan gagal membayar bunga obligasi Rp10,29 miliar yang jatuh tempo 8 Juni 2026. Direktur Utama ADCP Achmad Wachid Abdullah menyebut penyebabnya adalah keterbatasan likuiditas akibat melambatnya realisasi penjualan dan penerimaan kas dari proyek-proyek yang sedang berjalan. Perseroan kini berkoordinasi dengan Credit Guarantee and Investment Facility (CGIF) selaku penjamin obligasi.
Satu lagi yang layak dicatat: PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) mencairkan dividen tunai Rp1,51 triliun pada 5 Juni, setara Rp32,81 per saham, naik 44% dari tahun sebelumnya. Dividen itu hanya 20% dari laba bersih 2025 yang mencapai Rp7,57 triliun. Valuasi BRIS saat ini di kisaran PE 9,6 kali. Belum termasuk murah di mata sebagian analis, tapi lebih menarik dibanding periode ketika harganya masih bertengger di level lebih tinggi.
Inflasi AS yang melonjak ke 4,2% secara tahunan pada Mei 2026, tertinggi sejak April 2023, menjadi bayang-bayang yang perlu diwaspadai. Harga bensin di AS melonjak 40,5% secara tahunan, dipicu konflik Iran yang memasuki bulan keempat dan gangguan di Selat Hormuz. Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed praktis lenyap dari kalkulasi pasar. Buat Indonesia, ini berarti tekanan pada nilai tukar dan arus modal belum benar-benar reda, meski hari ini rupiah sempat bernapas lega. Pertanyaannya, berapa lama napas lega itu bertahan?