Dari 6.000 ton per bulan, tinggal 4.500 ton. Realisasi distribusi Minyakita ke Sumatera Barat sepanjang Januari hingga Maret 2026 anjlok seperempat, menurut catatan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) setempat.
Selisih 1.500 ton per bulan itu bukan angka remeh. Rak-rak di sejumlah pasar tradisional langsung kosong, persis ketika kebutuhan masyarakat terhadap minyak goreng justru sedang naik.
Kenaikan harga minyak goreng curah memperparah situasi. Konsumen yang sebelumnya membeli curah kini ramai-ramai beralih ke Minyakita yang disubsidi pemerintah. Permintaan meledak, pasokan seret. Ibarat menarik selimut yang sudah terlalu pendek.
Kelangkaan.
Kata itu agaknya sudah akrab di telinga warga Sumbar yang kesulitan mendapatkan minyak goreng bersubsidi ini. Disperindag Sumbar menyebut ketidakseimbangan antara sisi pasokan dan permintaan sebagai biang keladi utama. Angka yang masuk tidak pernah mengejar angka yang keluar dari rak.
Pemerintah daerah mengaku terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mendorong tambahan pasokan sekaligus menjaga stabilitas distribusi, setidaknya itu klaim resminya. Langkah yang terdengar familier.
Sampai kapan masyarakat Sumbar harus antre, atau bahkan pulang dengan tangan kosong? Pertanyaan itu belum ada jawabnya.