Angka itu dua kali lipat dari perkiraan. Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan nonfarm payrolls Mei bertambah 172.000, melampaui seluruh estimasi ekonom yang disurvei Dow Jones di kisaran 80.000 pekerjaan. Bukan sekadar beat tipis, ini pukulan telak buat siapa pun yang masih berharap Federal Reserve segera memutar haluan kebijakan moneternya.
Tingkat pengangguran bertahan di 4,3%, sesuai proyeksi pasar. Upah rata-rata per jam naik 0,3% secara bulanan dan 3,4% secara tahunan, nyaris presisi dengan ekspektasi Wall Street. Revisi data bulan-bulan sebelumnya pun tak mengecewakan: April direvisi naik ke 179.000, Maret ke 214.000. Narasi tentang pasar tenaga kerja yang mulai loyo? Harus dibuang ke tempat sampah.
Sektor yang paling agresif merekrut adalah rekreasi dan perhotelan, dengan tambahan 70.000 pekerjaan, jauh di atas rata-rata bulanan setahun terakhir. Pemerintah daerah menambah 55.000 posisi, sektor kesehatan 35.000, layanan sosial 12.000. Bila digabung, empat sektor ini saja sudah menyumbang lebih dari separuh total penambahan. Angka yang tidak main-main.
Gus Faucher dari PNC menyebut kondisi ini lebih solid dibanding tahun lalu. "Ini adalah pasar tenaga kerja yang lebih kuat daripada tahun lalu dan terlihat sangat solid, meskipun harga energi tinggi dan inflasi secara umum lebih tinggi," katanya, seperti dikutip CNBC. Heather Long, Kepala Ekonom Navy Federal Credit Union, sepakat: laporan ini menandai berakhirnya periode perekrutan yang lesu. Perusahaan-perusahaan Amerika, agaknya, kembali percaya diri membuka lowongan.
Buat investor yang sudah lama memasang kalender, menghitung mundur kapan The Fed mulai potong suku bunga, data ini terasa seperti siraman air dingin. Ellen Zentner dari Morgan Stanley Wealth Management menegaskan laporan ketenagakerjaan ini justru membuat bank sentral AS semakin nyaman mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, tanpa ada sinyal tekanan inflasi baru yang dapat memicu kenaikan tambahan. Inflasi inti PCE masih di 3,3%, pertumbuhan PDB kuartal pertama 1,6%, dan proyeksi Atlanta Fed untuk kuartal kedua menyentuh sekitar 3%. Tidak ada urgensi sama sekali untuk bergerak.
Dampaknya langsung terasa di pasar negara berkembang. Indeks mata uang emerging market MSCI amblas hingga 0,6% sesaat setelah data dirilis, mencatat pelemahan untuk sesi keempat berturut-turut. Rupiah dan mata uang sejenisnya kena getahnya juga. Dan Pan, ekonom Amerika di Standard Chartered Bank, menyebut angka-angka ini telah "mengembalikan narasi keistimewaan AS", dengan "kenaikan suku bunga AS dan penguatan dolar" yang berdampak negatif pada kinerja pasar emerging market.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS melonjak setelah laporan dirilis. Pasar saham, sebaliknya, tergerus. Kombinasi dolar kuat dan yield tinggi adalah skenario paling tidak diinginkan bagi portofolio yang terekspos aset-aset berisiko, ibarat pedang bermata dua yang mengiris dari dua arah sekaligus. Pertanyaannya sekarang bukan lagi kapan The Fed memotong suku bunga, melainkan apakah tahun ini masih realistis sama sekali.