Angka 5,5 persen itu disebut dua kali, oleh dua pejabat berbeda, di dua forum berbeda, pada hari yang sama.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Wakil Menteri Keuangan Juda Agung kompak memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 menyentuh 5,5 persen, bahkan mungkin lebih. Purbaya merujuk pada kinerja kuartal sebelumnya yang tercatat 5,39 persen sebagai batu loncatan. "Triwulan kemarin kita tumbuh berapa? 5,39%. Pertumbuhan pertama mungkin akan tumbuh 5,5% ke atas," ujarnya dalam acara peluncuran program PINTAR Reksa Dana di Gedung BEI, Senin (27/4/2026).
Juda menopang klaim itu dengan data konkret: penerimaan PPN dan PPnBM sepanjang kuartal I mencapai Rp155,6 triliun, melonjak 57,7 persen dibanding periode sebelumnya. Bagi Kemenkeu, angka itu cukup kuat untuk menjadi dasar optimisme.
Tapi CORE Indonesia punya kalkulasi yang sedikit lebih dingin.
Dalam laporan Quarterly Economic Review Q1-2026 yang dirilis Rabu, lembaga riset itu memproyeksikan pertumbuhan di kisaran 5,2-5,3 persen, dengan potensi tembus 5,4-5,5 persen jika beberapa indikator tambahan terkonfirmasi. Konsumsi rumah tangga memang masih jadi penopang utama, eh, bukan em dash, tercermin dari Indeks Penjualan Riil yang tumbuh 4,86 persen, jauh lebih kencang ketimbang 2,77 persen pada periode yang sama tahun lalu. Indeks Kondisi Ekonomi pun ikut membaik, naik ke 115,5 dari sebelumnya 110,7.
Hanya saja, Direktur Eksekutif CORE Mohammad Faisal mengingatkan bahwa kualitas konsumsi itu belum betul-betul solid. Belanja masyarakat masih terkonsentrasi pada kebutuhan dasar; pengeluaran non-esensial cenderung lesu. "Satu-satunya yang mengkontraksi pertumbuhan ekonomi itu adalah dari komponen net ekspor," kata Faisal dalam diskusi publik di Jakarta, Rabu.
Dan ini bagian yang agaknya perlu dicermati lebih saksama.
Ekspor manufaktur terkontraksi 14,4 persen. Ekspor pertambangan amblas 22,8 persen. Kebijakan DMO batu bara dan program B50 untuk biodiesel memang efektif mengalihkan pasokan komoditas ke pasar domestik, tapi efek sampingnya terasa di neraca perdagangan. Ekspor minyak hewani dan nabati pun melambat tajam, dari 71,53 persen di triwulan I-2025 menjadi hanya 16,19 persen di periode yang sama tahun ini. Ibarat rem yang dipasang di salah satu roda.
Dari sisi fiskal, akselerasi belanja negara berkontribusi nyata terhadap pertumbuhan. Belanja pemerintah tumbuh sekitar 31 persen secara tahunan, didorong oleh lonjakan belanja pemerintah pusat sebesar 47,7 persen menjadi Rp610,3 triliun. Program Makan Bergizi Gratis, bantuan sosial, dan program strategis kementerian jadi motor utamanya. Konsekuensinya, defisit anggaran melebar ke Rp240,1 triliun per akhir Maret, setara 34,8 persen dari target defisit tahunan Rp689,1 triliun. Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja.
Purbaya, di forum yang sama, menyampaikan narasi yang jauh lebih ambisius. Pertumbuhan 8 persen dalam dua hingga tiga tahun ke depan, klaimnya, "sudah hampir kelihatan." Reformasi DJP dan Bea Cukai disebut mulai membuahkan hasil, tercermin dari penerimaan pajak yang tumbuh 20,7 persen pada Maret 2026. Kalau data ini bisa dipercaya, fondasinya memang sedang dibangun.
Apakah pasar akan percaya pada proyeksi 8 persen itu? Untuk sekarang, terlalu jauh.
Yang lebih relevan buat investor adalah peringatan dari CORE: kinerja solid di kuartal pertama berpotensi tidak bertahan. Tekanan dari pelemahan global, kenaikan harga energi, dan kebijakan efisiensi domestik diperkirakan mulai menghajar angka pertumbuhan di kuartal II hingga IV-2026. Proyeksi pertumbuhan penuh tahun 2026 tetap dipatok di kisaran 4,9-5,1 persen, jauh di bawah target pemerintah. Bak gayung bersambut antara optimisme dan realitas yang belum tentu satu frekuensi.
Kalau ada euforia dari data kuartal pertama, mungkin perlu ditakar ulang.