RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Penjualan Ritel April Ambles 11,6%, Terburuk dalam...

Ekonomi

Penjualan Ritel April Ambles 11,6%, Terburuk dalam 4 Tahun

Bank Indonesia mencatat kontraksi penjualan eceran terdalam sejak Maret 2022, dipicu normalisasi pasca-Lebaran. Namun tekanan belum usai: kenaikan harga bahan baku bayangi konsumen hingga akhir tahun.

BI: Tekanan Harga Barang Diperkirakan Meningkat pada Akhir Tahun

Angka yang keluar dari Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia cukup untuk membuat pelaku pasar berhenti sejenak. Indeks Penjualan Riil (IPR) April 2026 tercatat 226,9, anjlok dari 256,7 pada Maret. Kontraksi bulanannya mencapai 11,6%, berbalik tajam dari pertumbuhan 10,3% di bulan sebelumnya. Penurunan bulanan terbesar dalam empat tahun terakhir.

BI menyebut ini normalisasi, dan secara teknis memang benar. Lonjakan belanja saat Ramadan dan Lebaran selalu diikuti puasa konsumsi di bulan berikutnya. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyebut penurunan ini sejalan dengan meredanya permintaan setelah berakhirnya periode Hari Besar Keagamaan Nasional Ramadan dan Idulfitri 1447 H.

Tapi kalau hanya soal normalisasi, ceritanya sudah selesai di sini. Yang lebih menarik adalah apa yang tersembunyi di balik angka agregat itu.

Secara tahunan, tidak semua segmen bergerak ke arah yang sama. Suku cadang dan aksesori kendaraan masih tumbuh 14,7%. Perlengkapan rumah tangga naik 0,6%, barang budaya dan rekreasi sedikit positif di 0,07%. Tapi kelompok makanan, minuman, dan tembakau turun 3,8% year-on-year. Peralatan informasi dan komunikasi bahkan amblas 26,4%. Sandang terkoreksi 7%. Segmen yang paling langsung menyentuh dompet rumah tangga justru yang paling dihajar.

Konteks makro perlu disebut. Pelemahan rupiah, kenaikan suku bunga acuan BI, ditambah keputusan pemerintah menaikkan harga Pertamax, agaknya mulai menggigit daya beli riil masyarakat. Bukan kejutan bahwa segmen konsumsi harian seperti makanan dan minuman ikut menanggung bebannya.

Untuk Mei 2026, BI memproyeksikan IPR di angka 225,0. Secara bulanan, kontraksi menyempit ke 0,9%, jauh lebih moderat dibanding April, ditopang momentum Kenaikan Yesus Kristus, Idul Adha, dan Waisak yang tersebar di Mei. Tapi secara tahunan, penjualan ritel Mei diperkirakan masih minus 3,2%, melanjutkan kontraksi 3,7% di April. Perbaikan ada. Belum cukup untuk bilang kondisi sudah pulih.

Yang lebih perlu dicermati justru sinyal dari ujung tahun. Indeks Ekspektasi Harga Umum untuk Oktober 2026 meningkat ke 167,6 dari estimasi September yang sebesar 163,2, didorong kenaikan harga bahan baku. Pelaku usaha sudah mulai membangun harga ke konsumen. Kalau tren ini berlanjut, tekanan inflasi di kuartal empat bisa lebih keras dari yang saat ini diperkirakan pasar.

Pertanyaannya: apakah kenaikan harga dan kenaikan penjualan bisa terjadi bersamaan tanpa ada yang kena tampar? Indeks Ekspektasi Penjualan Oktober 2026 tercatat 149,4, naik dari 137,8 pada September, didorong tahun ajaran baru dan persiapan Natal. Optimisme pelaku usaha nyata, tapi kombinasi ekspektasi harga naik dan ekspektasi penjualan naik sekaligus bisa jadi cermin retak dari kondisi daya beli yang sesungguhnya, entah margin pelaku usaha yang tergerus atau konsumen yang terpaksa bayar lebih mahal.

Dari sisi geografis, kinerja April masih terjaga di beberapa kota. Banjarmasin mencatat pertumbuhan tahunan tertinggi sebesar 18,5%, diikuti Semarang dan Purwokerto di 10,9%, serta Manado 7,1%. Surabaya dan Bandung masih di zona merah, masing-masing minus 3,7% dan 4,2% year-on-year. Dua kota besar dengan basis konsumsi yang seharusnya kuat justru tertinggal. Itu pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab oleh data survei ini.