RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Pertamax Naik 32%, Pemerintah Siapkan Bansos untuk...

Ekonomi

Pertamax Naik 32%, Pemerintah Siapkan Bansos untuk Desil 4 ke Bawah

Setelah Pertamina menaikkan harga Pertamax hampir 32% menjadi Rp 16.250 per liter, pemerintah bergerak menyiapkan stimulus bagi kelompok miskin dan rentan miskin, sementara kelas menengah disodori program magang nasional.

Pemerintah Siapkan Stimulus untuk Redam Dampak Kenaikan Harga BBM

Kenaikan harga Pertamax dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter sejak 10 Juni lalu ternyata belum selesai ceritanya. Senin malam (15/6/2026), Menko Perekonomian Airlangga Hartarto akhirnya membuka sedikit kartunya soal respons pemerintah.

Stimulusnya disiapkan, tapi bukan untuk semua orang. Sasarannya spesifik: desil 1 hingga 4, alias kelompok masyarakat miskin dan rentan miskin. "Kita siapkan yang untuk kelas menengah ke bawah, desil 4 ke bawah. Nah ini sedang dipersiapkan," ungkap Airlangga usai rapat Dewan Pengawas Danantara di Wisma Danantara, Jakarta.

Soal bentuknya, Airlangga masih pelit bicara. Yang ia bocorkan: ada unsur BLT di dalamnya, tapi penyalurannya tidak dalam bentuk tunai murni, dan tidak menyasar kelas menengah. "Kalau BLT yang bukan yang di menengah tetapi yang di bawah," tegasnya.

Lantas bagaimana nasib kelas menengah yang ikut kepayahan? Untuk segmen ini, pemerintah menawarkan program magang nasional yang diklaim sedang didorong kembali mulai Juni 2026. "Kelas menengah salah satu program magang yang kita lagi dorong kembali di bulan Juni," kata Airlangga. Apakah program magang cukup sebagai peredam tekanan biaya hidup yang naik, itu pertanyaan yang agaknya belum ada jawaban memuaskan dari Jakarta.

Satu hal yang pemerintah pastikan tidak berubah: harga Pertalite dan program biodiesel B50 tetap dipertahankan. Langkah ini dibingkai sebagai bentuk keberpihakan kepada mayoritas konsumen BBM subsidi, yang secara sosial-ekonomi lebih rentan dibanding pengguna Pertamax.

Kenaikan harga BBM nonsubsidi kali ini memang tidak main-main. Pertamax melonjak hampir 32%. Pertamax Green 95 ikut terkerek dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter. Pertamax Turbo bahkan meledak: dari Rp 12.750 menjadi Rp 20.750 per liter, naik sekitar 63%. Kenaikan di varian premium itu boleh jadi tidak terlalu dirasakan pengguna sehari-hari, tapi efek berantainya ke biaya logistik dan distribusi adalah cerita lain.

Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun mengingatkan bahwa kenaikan BBM nyaris selalu diikuti tekanan inflasi. "Pasti kalau kenaikan BBM biasanya selalu akan diikuti dengan kenaikan inflasi. Berapa persennya, nol sekian itu kita belum tahu," ujarnya. Ia juga menyoroti fakta bahwa pengguna Pertamax dan Pertalite kerap berada di segmen yang berdekatan secara ekonomi, sehingga limpahan dampaknya ke bawah bisa lebih besar dari yang terlihat di atas kertas.

Airlangga melihat sedikit angin segar dari pasar energi global. Kesepakatan damai AS-Iran dinilai berpotensi menekan harga minyak dunia, dengan Brent saat ini bertengger di US$ 82,97 per barel dan WTI di US$ 80,12 per barel. Ia memperkirakan harga bisa kembali ke kisaran US$ 83 per barel. Tapi pemerintah memilih konservatif sambil menunggu perjanjian resmi ditandatangani. "Kita monitor karena harga minyaknya akan turun lagi ke sekitar US$ 83 per barel, tetapi semua ini baru selesai sesudah ditandatangani. Jadi sebelum ditandatangani, kita tetap konservatif," kata Airlangga.

Yang paling mencolok dari paket respons pemerintah kali ini: absennya detail konkret. Tidak ada angka anggaran, tidak ada jadwal penyaluran, tidak ada skema yang diumumkan terbuka. Kepala Pusat Makroekonomi Indef Rizal Taufikurrahman sudah mengingatkan bahwa daya beli kelas menengah sedang dalam tekanan nyata, justru dari kelompok yang tidak tersentuh subsidi maupun bansos. Kelompok yang, entah kebetulan atau tidak, juga tidak masuk dalam radar stimulus yang sedang disiapkan pemerintah.