RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Pertamax Naik, Optimisme Konsumen Mulai Goyah

Ekonomi

Pertamax Naik, Optimisme Konsumen Mulai Goyah

Kenaikan harga Pertamax per 10 Juni 2026 berpotensi memperparah pelemahan keyakinan konsumen yang sudah tergerus lebih dulu oleh depresiasi rupiah dan tekanan harga energi global.

Pertamax Uji Daya Optimisme Masyarakat Kala Level IKK Masih Optimis

IKK 120,9 terdengar aman. Di atas 100 artinya konsumen masih optimistis, setidaknya secara statistik. Tapi angka Bank Indonesia dari Survei Konsumen Mei 2026 itu terbaca sebelum Pertamax naik harga pada Rabu, 10 Juni 2026, dan itulah yang kini jadi pertanyaan besar di kalangan ekonom: seberapa tahan keyakinan konsumen menghadapi tekanan baru ini?

Kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax bukan datang di waktu yang ideal. Rupiah sedang dalam tekanan, harga minyak global belum jinak, dan daya beli rumah tangga sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan bahkan sebelum angka di papan SPBU berubah. Rem belanja rumah tangga? Bukan isyarat kepanikan, tapi juga bukan sinyal yang bisa dikantongi begitu saja.

Indeks Keyakinan Konsumen di 120,9 memang masih zona optimis. Yang perlu diwaspadai justru tren pelemahannya. Konsumen Indonesia terkenal resilient, bisa jadi angka ini masih bertahan bulan depan. Tapi kalau kenaikan Pertamax menular ke harga-harga lain lewat efek transportasi dan logistik, yang notabene hampir selalu terjadi, tekanan inflasi dari sisi penawaran bisa memangkas keyakinan itu lebih cepat dari perkiraan.

Sepanjang beberapa bulan terakhir, sinyal dari sisi konsumsi memang campur aduk. Sejumlah indikator ritel masih tumbuh, tapi konsumen mulai pilih-pilih, memilah mana kebutuhan primer dan mana yang bisa ditunda sampai gajian berikutnya. Agaknya ini bukan fenomena sementara, melainkan respons adaptif terhadap lingkungan ekonomi yang makin tidak pasti.

Bagi prospek pertumbuhan, konsumsi rumah tangga adalah komponen krusial, menyumbang lebih dari separuh PDB. Kalau keyakinan konsumen terus tergerus dan berujung pada pengetatan belanja yang lebih dalam, angka pertumbuhan kuartal berikutnya bisa lebih berat dari yang sudah diantisipasi pasar. Pertanyaannya bukan lagi apakah kenaikan Pertamax berdampak. Melainkan, seberapa dalam dampak itu akan terasa di angka konsumsi riil.