Tiga perusahaan mundur dari antrean IPO Bursa Efek Indonesia, menyisakan 12 calon emiten dalam pipeline pencatatan saham per 5 Juni 2026. Bulan lalu, angka itu masih 15 perusahaan.
Penyusutan ini punya alasan teknis. Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menyebutkan ada calon emiten yang harus merevisi laporan keuangan dengan data terbaru. "Ada pula yang masih membutuhkan kelengkapan dokumen dan ada yang belum disetujui," katanya kepada media, Senin (8/6/2026).
Dari 12 calon emiten yang bertahan, delapan tergolong korporasi besar dengan aset di atas Rp250 miliar. Empat sisanya skala menengah, aset antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar. Sektor kesehatan dan barang konsumen primer memimpin antrean dengan masing-masing tiga nama, diikuti konsumen non-primer dan infrastruktur yang masing-masing menyumbang dua. Keuangan dan teknologi masing-masing satu. Yang mencolok justru yang absen: bahan baku, energi, industri, properti, dan transportasi kosong sama sekali.
Realisasi IPO sepanjang tahun ini, jujur saja, jauh dari menggembirakan. Satu-satunya perusahaan yang sudah resmi melantai baru PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) pada 10 April 2026, menghimpun dana Rp302,4 miliar dengan melepas 1,8 miliar saham atau sekitar 20,75% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. BEI bahkan tak berhasil membawa satu pun emiten baru di kuartal I-2026. Berbalik jauh dari kuartal I-2025, ketika 11 perusahaan melantai dengan antusias pasar yang relatif tinggi.
Latar belakangnya susah diabaikan. Jumat (5/6/2026), IHSG ditutup di 5.594, ambles 4,2% dalam sehari dan menyentuh level terendah sejak November 2020. Sejak Januari, indeks sudah tergerus 35,3% year-to-date. Indeks paling lemah di dunia sepanjang 2026. Bagi calon emiten yang masih menimbang waktu peluncuran saham perdana, kondisi seperti ini agaknya cukup untuk membuat mereka memilih menunggu.
Meski begitu, Yetna bergeming soal target. BEI terus mendorong calon emiten dan penjamin emisi untuk mempercepat penyampaian dokumen dan tanggapan kepada regulator. "Itu harapan kita untuk speed up prosesnya. So far masih on track," tegasnya.
Desakan serupa datang dari atas. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya sudah menyoroti sepinya IPO di kuartal I dan meminta OJK serta BEI untuk mengesekusi rencana pencatatan yang sudah masuk pipeline. Airlangga menyebut pelaksanaan IPO perusahaan swasta krusial untuk mendorong pertumbuhan indeks saham.
Pertanyaan yang lebih relevan buat investor: dari 12 nama yang tersisa di antrean, berapa yang benar-benar akan memanfaatkan sisa tahun ini untuk melantai, dan berapa yang akhirnya memilih menunda lagi menunggu IHSG pulih?