RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Prajogo Lepas 1,71 Miliar Saham CUAN, Harga Amblas...

Finansial

Prajogo Lepas 1,71 Miliar Saham CUAN, Harga Amblas 47,5% Sebulan

Prajogo Pangestu kembali melepas saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) sebanyak 1,71 miliar lembar sepanjang Mei 2026, mendongkrak free float ke 19,59%. Saham CUAN sendiri sudah rontok hampir separuh dalam sebulan.

Prajogo jual 1,7 miliar saham CUAN, harga merosot 47,5% sebulan

Prajogo Pangestu, bos Grup Barito yang namanya identik dengan beberapa emiten raksasa di bursa, kembali mengurangi cengkeramannya di PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Berdasarkan laporan registrasi pemegang efek yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia pada Rabu (10/6), kepemilikan Prajogo menyusut dari 92,07 miliar lembar atau 81,90% menjadi 90,35 miliar lembar setara 80,37% per akhir Mei 2026. Total saham yang berpindah ke tangan publik: 1,71 miliar lembar.

Sepintas angka ini terdengar seperti transaksi rutin korporasi. Tapi konteksnya lain. Aksi pelepasan ini agaknya bukan semata keputusan komersial, melainkan respons terhadap ketentuan BEI yang mewajibkan porsi saham beredar di publik minimal 15 persen. Dengan tambahan saham yang masuk ke investor publik, free float CUAN kini berada di kisaran 19,59%, naik dari posisi April yang tercatat 18,06%.

Di jajaran manajemen, beberapa nama juga tercatat menggenggam saham CUAN meski dalam porsi yang jauh lebih kecil. Erwin Ciputra, dari dewan komisaris, mengantongi kepemilikan terbesar di antara rekan-rekannya dengan 16,33 juta lembar atau 0,0145 persen. Di sisi direksi, Michael memimpin dengan 3,54 juta lembar, disusul Kartika Hendrawan dengan 3,15 juta lembar, lalu Daniel Jr. Lopez dengan 1,63 juta lembar dan Diana Arsiyanti dengan 1,5 juta lembar. Posisi paling minor dipegang Lim Hendra Gunawan, yang hanya menggenggam 230.000 lembar.

Yang membuat cerita ini lebih menarik, bisa jadi justru kondisi harga sahamnya. CUAN dihajar koreksi brutal sepanjang Mei, amblas 47,5% hanya dalam sebulan dan menutup periode itu di level Rp630 per lembar. Dihitung dari awal tahun, penurunannya sudah mencapai 73%. Bukan penurunan biasa.

Pada perdagangan intraday Rabu (10/6), saham ini masih belum menemukan pijakan stabil. Dibuka di Rp765, sempat menyentuh tertinggi harian Rp835, sebelum akhirnya tergelincir ke Rp760, melemah 1,94 persen atau turun 15 poin. Rentang harian yang lebar antara Rp730 hingga Rp835 mencerminkan volatilitas cukup tinggi, entah kebetulan atau tidak, tepat ketika laporan kepemilikan baru saja dirilis.

Apakah pelepasan saham oleh pengendali saat harga sedang babak belur ini sinyal yang perlu diwaspadai, atau sekadar pemenuhan kewajiban regulasi? Kalau data ini bisa dipercaya, dengan harga yang sudah tergerus hampir tiga perempat sejak awal tahun, mereka yang masuk di level atas kini tengah nyangkut cukup dalam.