RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Program MBG Dorong Harga Wortel dan Telur, Petani...

Ekonomi

Program MBG Dorong Harga Wortel dan Telur, Petani Tomat Gigit Jari

Sejumlah komoditas pangan mencatat kenaikan harga setelah program Makan Bergizi Gratis kembali berjalan, tapi tidak semua petani ikut merasakan manfaatnya.

Harga Wortel dan Mentimun di Magetan Melonjak Sepekan usai MBG Berjalan, Tomat Malah Anjlok | beritajatim.com

Sepekan setelah program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali digulirkan, pasar komoditas pangan di beberapa daerah mulai bergerak. Tidak semuanya ke arah yang sama.

Di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, harga wortel di tingkat petani melesat dari Rp5.000 menjadi Rp9.000 per kilogram. Hampir 80% dalam hitungan hari. Para petani di sentra produksi Kecamatan Plaosan, yang beberapa bulan terakhir menahan napas menghadapi tekanan harga, kini kembali bersemangat membuka lahan.

Mentimun ikut terkerek. Di tingkat petani, harganya melompat dari kisaran Rp10.000 hingga Rp15.000 menjadi Rp20.000 per kilogram. Di Pasar Agrobis Plaosan, pedagang memasang Rp24.000 per kilogram untuk mentimun, naik dari sebelumnya Rp21.000.

"Petani di sini terus menanam wortel, harganya naik menjadi Rp9 ribu. Begitu juga mentimun Rp20 ribu," ungkap Winarti, petani di Desa Ngancar, Kecamatan Plaosan. Kalimat berikutnya dari perempuan ini yang bikin prihatin: "Tomat tidak laku."

Itulah sisi lain dari euforia kenaikan harga ini. Harga tomat di tingkat petani ambruk ke Rp1.000 per kilogram, turun dari Rp4.000 sebelumnya. Di Pasar Agrobis Plaosan pun senasib, hanya Rp2.000 per kilogram, turun dari Rp4.000. Sebagian petani memilih tidak memanen sama sekali karena ongkos petik dan angkut tidak sebanding dengan harga jual. Tanaman dibiarkan membusuk di kebun. Bukan cerita baru di pertanian Indonesia, tapi tetap menyakitkan setiap kali terjadi.

Petani Sugiman menyambut kenaikan harga wortel dan mentimun sebagai kabar yang ditunggu-tunggu setelah berbulan-bulan tertekan. Tapi ia juga tahu situasi bisa berbalik cepat kalau pasokan mendadak membludak atau program MBG kembali tersendat. "Petani senang karena harga naik menjadi Rp9 ribu, begitu juga mentimun Rp20 ribu. Sedangkan tomat tak laku, harganya rendah," katanya.

Geliat serupa terasa di Tanjunguban, Kepulauan Riau. Telur ayam ukuran 2 naik dari Rp55.000 menjadi Rp60.000 per papan; eceran per butirnya terkerek dari Rp2.000 ke Rp2.500. Ukuran 1 di Lobam bahkan menembus Rp62.000 per papan, dari sebelumnya Rp59.000.

Nining Sulasih, pedagang di Pasar Baru Tanjunguban, menduga MBG jadi salah satu pemicunya. "Penjualan biasa-biasa saja. Tidak tahu apa sebabnya, mungkin karena program makan bergizi gratis sudah jalan, karena mereka langsung ambil dalam jumlah besar," katanya. Pedagang lain di Lobam menepis kaitan itu. "Tidak ada pengaruh MBG," singkatnya.

Entah kebetulan atau tidak, waktu kenaikan di dua daerah berbeda ini nyaris bersamaan dengan jadwal operasional MBG. Bisa jadi efek permintaan memang sudah terasa di lapangan. Bisa jadi juga murni dinamika pasar yang siklus-nya kebetulan bertepatan.

Yang lebih menggelitik adalah pola ketimpangan dampaknya. Wortel dan mentimun naik karena diserap program; tomat yang tidak masuk daftar kebutuhan MBG justru kolaps. Ini cermin retak dari betapa sensitifnya komoditas hortikultura terhadap perubahan permintaan yang bahkan bersifat tunggal. Kalau MBG konsisten menyerap satu komoditas secara rutin, dampaknya bisa dramatis ke petani komoditas itu. Sebaliknya, komoditas yang tidak terserap menanggung sendiri konsekuensi kelebihan pasokan.

Pertanyaannya sekarang: apakah pemerintah punya mekanisme penyerapan yang cukup merata untuk mencegah ketimpangan harga antarkomoditas seperti yang terjadi di Magetan? Kalau tidak, skenario yang akan terus berulang sudah bisa ditebak: sebagian petani cuan, sebagian lagi cuma bisa menatap tanamannya membusuk di kebun.