Purbaya Yudhi Sadewa terbang ke China besok. Agenda utamanya sudah jelas: berburu investor untuk Panda Bond, instrumen surat utang pemerintah Indonesia yang akan diterbitkan di pasar keuangan China dalam denominasi yuan.
Kepada awak media di Gedung DPR, Jakarta, Senin malam (15/6/2026), Menteri Keuangan itu tak banyak basa-basi soal tujuan kunjungannya. "Oh itu ketemu investor dan bahas Panda Bond," ujarnya singkat. Soal target nominal yang dibidik, Purbaya belum memberi angka pasti. Optimismenya, terbaca jelas. "Belum, saya pikir akan banyak," tambahnya.
Panda Bond bukan wacana baru. Pemerintah sudah menyebut instrumen ini sebagai bagian dari strategi memperluas basis pendanaan negara, dengan target penerbitan di semester II 2026. Logikanya sederhana: pasar obligasi China menawarkan tingkat bunga yang relatif lebih rendah dibanding pasar konvensional berbasis dolar, sehingga biaya pinjaman negara bisa ditekan.
Tapi ada dimensi yang lebih besar dari sekadar efisiensi bunga. Purbaya menegaskan bahwa langkah ini bagian dari upaya sistematis mengurangi ketergantungan pembiayaan APBN terhadap dolar AS. "Sehingga kita tidak tergantung terlalu banyak ke dolar lagi. Jadi diversifikasi kita akan lebih baik lagi. Jadi prospek kita bagus," ungkap Purbaya.
Dalam konteks nilai tukar yang kerap bergolak setiap kali Federal Reserve bergerak, diversifikasi ke yuan agaknya bukan langkah yang buruk. Kalau data ini bisa dipercaya, sebagian besar utang luar negeri pemerintah masih terkonsentrasi di dolar dan euro. Masuknya yuan sebagai mata uang pendanaan bisa jadi penyeimbang risiko kurs yang selama ini jadi batu sandungan dalam manajemen fiskal.
Berapa besar appetite investor China terhadap obligasi pemerintah Indonesia? Di level yield berapa kesepakatan bisa dicapai? Dua pertanyaan itu yang akan ditentukan dalam pertemuan Selasa, dan hasilnya baru bisa diukur setelah Purbaya mendarat kembali di Jakarta.