Angka 15 miliar bukan angka kecil, dan BI tampaknya tahu betul itu. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, volume transaksi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) mencapai 15 miliar transaksi, ditopang oleh 67 juta pengguna aktif dan 45 juta merchant yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Jumlah merchant itu, sebagaimana disinggung Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta, bahkan melampaui total populasi beberapa negara tetangga.
Ekosistem di balik angka tersebut juga tidak kecil. QRIS kini dilayani oleh 96 bank, 60 penyedia jasa pembayaran nonbank, dan 4 switching. Infrastruktur sebesar ini agaknya yang membuat pertumbuhan pengguna tidak menunjukkan tanda-tanda melambat.
Tapi yang lebih menarik buat pelaku pasar keuangan digital adalah cerita lintas negaranya. Hingga Juli 2026, transaksi inbound, yakni warga negara asing yang membayar pakai QRIS di Indonesia, mencapai Rp 5,9 triliun atau setara 326,3 juta dolar AS dari 19,76 juta transaksi. Adapun transaksi outbound oleh warga Indonesia di luar negeri tercatat Rp 1,73 triliun atau sekitar 95,6 juta dolar AS dari 4,32 juta transaksi. Total keduanya: Rp 7,6 triliun. Bukan main.
Saat ini QRIS cross border sudah aktif di enam negara: Singapura, Malaysia, Thailand, Jepang, Korea Selatan, dan China. "Tidak perlu tukar uang di sana, cukup pakai ponsel-nya asal ada saldonya ya jangan sampai nggak ada saldonya ya," kata Filianingsih dalam Lampung Financial Festival di Bandar Lampung, Sabtu (5/9/2026). Frasa "asal ada saldonya" itu diulang dua kali, mungkin karena justru di situ titik lemahnya.
Soal ekspansi, BI tidak berhenti di enam negara. Diskusi intensif sedang berlangsung dengan Hong Kong, Timor Leste, dan India. Yang paling dinantikan agaknya Arab Saudi, mengingat jutaan warga Indonesia rutin bertolak ke sana untuk ibadah haji dan umrah setiap tahunnya. "Dan sebentar lagi mudah-mudahan dengan Arab Saudi," ucap Filianingsih, meski tanggal pastinya belum dikunci.
Kalau Arab Saudi benar-benar terealisasi, ini bisa jadi katalis tersendiri bagi ekosistem pembayaran digital Indonesia. Volume jamaah haji dan umrah konsisten di angka ratusan ribu orang per tahun, dengan pengeluaran yang tidak sedikit. Konversi sebagian transaksi tunai mereka ke QRIS bisa mendorong angka outbound secara lumayan berarti, kalau data historis pengeluaran jamaah ini bisa dijadikan patokan.
Pertanyaannya sekarang: seberapa cepat BI bisa menutup gap antara transaksi inbound yang hampir empat kali lipat outbound? Selisih itu mencerminkan bahwa turis asing lebih rajin pakai QRIS di Indonesia ketimbang warga kita sendiri yang pakai QRIS di luar negeri. Bisa jadi karena kesadaran, bisa jadi karena jangkauan negara mitra yang masih terbatas. Entah kebetulan atau tidak, perluasan ke India dan Arab Saudi bisa langsung menyasar dua kantong terbesar pengeluaran diaspora dan jamaah Indonesia di luar negeri.