RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Rp53 Triliun dari Sawit, Airlangga Minta Hilirisas...

Ekonomi

Rp53 Triliun dari Sawit, Airlangga Minta Hilirisasi Tak Berhenti di Biodiesel

Industri kelapa sawit mencatat kontribusi ekspor USD30,87 miliar dan pungutan negara Rp53,13 triliun di 2025. Pemerintah kini mendorong hilirisasi ke produk bernilai tambah seperti Sustainable Aviation Fuel dan bensin sawit.

Empat Jalur Hilirisasi Sawit (2025)

Angka Rp53,13 triliun bukan jumlah yang bisa diabaikan begitu saja, dan itu baru dari pungutan ekspor serta bea keluar sektor sawit sepanjang 2025. Belum dihitung nilai ekspornya yang tembus USD30,87 miliar, atau kontribusi sekitar 3,5 persen terhadap PDB nasional. Sektor ini, sekeras apapun tekanan dari luar, masih menjadi salah satu tulang punggung ekonomi Indonesia.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menutup Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 yang digelar Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) di Jakarta pekan ini dengan satu pesan utama: kontribusi besar itu harus ditingkatkan, bukan sekadar dijaga. Caranya lewat riset, inovasi, dan hilirisasi yang lebih dalam.

Airlangga menyebut program Biodiesel B50 sebagai bukti bahwa kombinasi riset, kebijakan, investasi, dan kapasitas industri bisa berjalan selaras. Tapi ia menegaskan keberhasilan B50 bukan titik akhir. "Implementasi Biodiesel B50 menunjukkan bahwa riset, kebijakan, investasi, dan kapasitas industri mampu berjalan selaras. Keberhasilan ini harus menjadi pijakan untuk mengembangkan hilirisasi menuju produk bernilai tambah seperti Green Diesel, Sustainable Aviation Fuel (SAF), dan bensin sawit," ujar Airlangga.

SAF dan bensin sawit bukan sekadar jargon hijau. Keduanya menyasar pasar global yang sedang tumbuh, khususnya saat tekanan dekarbonisasi sektor penerbangan dan transportasi makin keras. Indonesia, dengan basis produksi sawit terbesar di dunia, punya posisi yang agaknya sulit ditandingi negara lain, kalau infrastruktur riset dan hilirisasinya benar-benar dibangun serius.

BPDP sendiri sudah menggelontorkan Rp921 miliar untuk dana riset, melibatkan 109 lembaga penelitian dan hampir 1.900 peneliti. Tahun ini, 56 kontrak riset baru ditandatangani, mencakup pengembangan kelapa nasional hingga kajian kesiapan infrastruktur B50. Direktur Utama BPDP Eddy Abdurrachman menyebut PERISAI dirancang bukan sekadar forum tukar pikiran. "PERISAI menjadi wadah untuk mempertemukan peneliti, pemerintah, dunia usaha, dan investor agar hasil riset dapat diimplementasikan serta memberikan nilai tambah bagi industri dan perekonomian nasional," jelas Eddy.

Gapnya ada di sini. Riset sawit Indonesia tidak kekurangan kuantitas, tapi seberapa banyak yang benar-benar sampai ke tahap produksi massal adalah pertanyaan yang lebih relevan, kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya. Airlangga sendiri menekankan pentingnya kolaborasi nyata yang mempercepat komersialisasi hasil riset, klaim yang masih perlu dibuktikan dalam eksekusi di lapangan.

Dengan target hilirisasi yang makin ambisius dan dana riset yang terus bertambah, industri sawit nasional sedang mempertaruhkan reputasinya sebagai sektor modern. Bukan komoditas mentah semata. Pasar global menunggu.