RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Rupiah dan Won Tersungkur, Pasar Valas Asia Masih...

Finansial

Rupiah dan Won Tersungkur, Pasar Valas Asia Masih Dibayangi Dua Ancaman Besar

Mayoritas mata uang Asia melemah pada Kamis pagi, dengan rupiah kembali mengintip level Rp18.000/US$ dan won Korea Selatan memaksa Seoul meluncurkan inspeksi valas pertama sejak 2010.

Enam dari sepuluh mata uang Asia tergerus terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis (11/6/2026). Paradoksnya, indeks dolar AS justru bergerak melemah tipis 0,04% ke posisi 99,912. Inflasi AS yang kembali memanas, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, dan spekulasi arah kebijakan The Fed membuat ruang manuver mata uang kawasan semakin sempit.

Rupiah sempat dibuka menguat ke Rp17.925/US$ pagi ini. Tapi penguatan itu tak bertahan lama. Mata uang Garuda berbalik melemah 0,11% ke Rp17.970/US$, mendekati lagi level psikologis Rp18.000 yang belakangan kerap jadi momok. Analis memperkirakan rupiah hari ini bergerak di rentang Rp18.150-Rp18.250/US$. Peluang tembus Rp18.000 tetap terbuka.

Yang paling dalam tergerus pagi ini justru won Korea Selatan. Melemah 0,34% ke KRW 1.527,47/US$. Bukan koreksi teknikal biasa. Won sempat menyentuh 1.560/US$ dalam perdagangan intraday beberapa waktu terakhir, padahal pada Juni 2025 posisinya masih sekitar 1.350/US$. Depresiasi hampir 16% dalam setahun itulah yang membuat Seoul angkat tangan dan meluncurkan inspeksi gabungan pasar valas, pertama kalinya sejak 2010 pasca krisis keuangan global.

Inspeksi tersebut melibatkan Bank of Korea dan Financial Supervisory Service, berjalan di bawah payung Undang-Undang Transaksi Valuta Asing. Pemeriksaan difokuskan pada bank-bank pelaku valas, termasuk transaksi di pasar offshore non-deliverable forwards (NDF) yang selama ini menjadi jalur utama spekulasi won di luar negeri. Tahap awal lewat pemeriksaan dokumen; kalau ditemukan anomali statistik, otoritas siap turun langsung ke lapangan. Seoul juga dilaporkan sedang menjajaki fasilitas swap mata uang bilateral dengan Washington, langkah yang, entah kebetulan atau tidak, muncul tepat saat negosiasi dagang AS-Korea Selatan sedang berjalan.

Ringgit Malaysia terkoreksi tipis 0,05% ke MYR 4,069/US$, dong Vietnam terdepresiasi 0,19% ke VND 26.314/US$, dolar Taiwan melemah 0,14% ke TWD 31,711/US$. Yuan China ikut melemah, meski cuma 0,03%. Baht Thailand menjadi satu-satunya yang menguat cukup berarti, naik 0,15% ke THB 32,90/US$, diikuti dolar Singapura dan peso Filipina yang sama-sama naik 0,04%.

Ada dua sentimen besar yang membayangi pasar pekan ini. Pertama, geopolitik. Militer AS melancarkan putaran serangan baru ke Iran pada Rabu malam, dan Presiden Donald Trump terang-terangan mengancam akan menambah serangan jika kesepakatan damai tidak tercapai. Gencatan senjata yang sudah rapuh kian sulit dipegang. Harga minyak terdorong naik, yang langsung menekan neraca berjalan negara-negara importir minyak di Asia, termasuk Indonesia.

Kedua, data inflasi AS. CPI Amerika naik 4,2% secara tahunan pada Mei, lompatan terbesar sejak April 2023. Angka yang cukup untuk bikin pasar gelisah. Core CPI masih lebih jinak, naik hanya 0,2% secara bulanan, jauh di bawah kenaikan 0,4% pada April. James Knightley, kepala ekonom internasional ING, masih melihat celah. "Tekanan upah yang mulai mendingin seharusnya membantu menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali. Jadi, meski kami tidak lagi memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga tahun ini karena momentum ekonomi membaik, kami juga tidak memperkirakan adanya kenaikan suku bunga," ujar Knightley, dikutip dari Reuters. Pasar agaknya tidak sepenuhnya sepakat: peluang kenaikan 25 basis poin pada Desember kini sudah sepenuhnya diperhitungkan pelaku pasar, perubahan drastis dari ekspektasi dua kali pemangkasan yang masih berlaku sebelum konflik Iran pecah di akhir Februari.

Bagi rupiah, ada sedikit penyangga. Pemerintah menggelar lelang SUN hari ini dengan target indikatif Rp36 triliun. Imbal hasil SUN dan SRBI tenor 12 bulan juga terkerek naik ke 7,25%. Spread antara obligasi pemerintah Indonesia berdenominasi dolar (INDON) versus US Treasury melebar hingga 109,2 basis poin, dengan INDON di 5,6% dan UST 10 tahun di 4,56%. Secara teori, selisih ini semestinya mempertebal daya tarik aset domestik bagi investor asing. Semestinya.