Sepanjang pagi Selasa (2/6), rupiah dibuka melemah 54,5 poin ke level Rp17.859 per dolar AS. Bagi sebagian orang, angka itu cuma headline di kolom kurs. Bagi industri farmasi dan jutaan pasien yang menggantungkan diri pada obat-obatan impor, itu cerita yang sama sekali berbeda.
BPOM tidak tinggal diam. Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Taruna Ikrar mengakui tekanan kurs ini nyata, dan, jujur saja, sulit dibendung sepenuhnya. Lebih dari 30 persen bahan baku obat kimia berasal dari industri petrokimia, komoditas yang diperdagangkan dalam dolar AS. Rupiah loyo, biaya produksi ikut melar.
Sebagai respons, BPOM menyiapkan sejumlah kebijakan penyesuaian. Yang paling konkret: fleksibilitas pengadaan bahan baku. Perusahaan farmasi kini bisa beralih dari pemasok di satu negara ke pemasok di negara lain tanpa harus melewati birokrasi yang panjang. BPOM juga mempermudah prosedur perubahan kemasan produk. Bukan solusi ajaib. Tapi setidaknya memberi ruang napas bagi produsen agar tidak langsung membebankan seluruh kenaikan biaya ke konsumen akhir.
"Kenaikan harga akibat penguatan dolar AS, situasi perang yang masih berlangsung, serta kenaikan harga bahan baku memang tidak bisa dipungkiri. Namun, pemerintah berharap kenaikan harga obat tidak terjadi secara ekstrem dan berbagai langkah telah disiapkan untuk mengendalikan dampaknya," kata Taruna usai acara Kick Off Pekan Jamu 2026 di kantor BPOM, Jakarta.
Dampaknya bukan cuma soal harga di apotek. Bagi kelompok yang selama ini memilih berobat ke luar negeri, pelemahan rupiah memberi beban berlapis. Perencana keuangan Budi Raharjo dari OneShildt mengingatkan, efek kurs terasa di hampir setiap lini biaya medis luar negeri: mulai dari tiket dan penginapan, sampai tindakan dan obat-obatan di sana. Bagi mereka yang sudah telanjur menjadwalkan pengobatan ke Singapura atau Malaysia, kalkulasinya perlu dihitung ulang sekarang juga.
Pertanyaannya, berapa lama tekanan ini akan bertahan? Situasi geopolitik global masih panas, greenback belum menunjukkan tanda-tanda melemah, dan ketergantungan industri farmasi nasional terhadap bahan baku impor tidak akan terurai dalam waktu singkat. Fleksibilitas yang diberikan BPOM agaknya bisa membantu jangka pendek. Tapi tanpa langkah serius menuju kemandirian bahan baku, siklus tekanan semacam ini akan terus berulang setiap kali rupiah oleng.