RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Rupiah Sentuh 17.120, IHSG Rebound tapi Ongkos Uta...

Ekonomi

Rupiah Sentuh 17.120, IHSG Rebound tapi Ongkos Utang Negara Ikut Merangkak

Rupiah sempat terperosok ke Rp17.120 per dolar AS di tengah tensi geopolitik yang belum reda, sementara IHSG justru ditutup menguat 2,07 persen. Di balik kontradiksi itu, ada ancaman yang lebih serius: biaya utang pemerintah berpotensi membengkak.

Rupiah sempat menyentuh Rp17.120 per dolar AS sebelum akhirnya ditutup di level Rp17.085 pada perdagangan Jumat pekan lalu. Bukan angka yang nyaman.

Gunawan Benjamin, pengamat ekonomi Sumatera Utara, menyebut tekanan pada rupiah datang dari dua arah sekaligus. Dari luar, tensi geopolitik global yang belum mereda membuat pelaku pasar lari ke aset safe haven. Dari dalam, potensi pelebaran defisit anggaran mulai masuk radar investor. Pemerintah masih menahan kenaikan harga BBM di saat harga minyak mentah dunia merangsek ke kisaran 96 hingga 98 dolar AS per barel, mendekati level psikologis 100 dolar.

Kondisi itu, kata Gunawan, membuat rupiah rentan terhadap sentimen negatif mana pun yang muncul.

Pasar saham justru bergerak ke arah sebaliknya. Agak mengherankan. IHSG ditutup menguat 2,07 persen ke level 7.458,496, ditopang saham-saham besar di sektor perbankan dan energi seperti BBRI, BBCA, BMRI, CUAN, hingga PTRO. "Penguatan bursa saham terjadi meskipun ada potensi konflik yang bisa kembali memanas," kata Gunawan. Ia menilai ini cerminan bahwa sebagian pelaku pasar masih menaruh optimisme pada prospek ekonomi domestik, meski ketidakpastian global belum ke mana-mana.

Tapi di balik rebound IHSG itu, ada implikasi yang agaknya lebih serius bagi keuangan negara.

Myrdal Gunarto dari Global Market Maybank Indonesia mengingatkan bahwa rupiah yang merangkak di atas Rp17.000 secara langsung menggeser persepsi risiko investor terhadap surat utang Indonesia. Setiap kali pemerintah turun ke pasar lewat lelang obligasi atau sukuk, investor kini cenderung meminta yield lebih tinggi sebagai kompensasi. Di pasar sekunder pun pergerakan yield masih fluktuatif.

"Kalau pemerintah menerbitkan utang baru saat ini, ongkosnya pasti lebih mahal," tegas Myrdal.

Sebagai negara net importir minyak, Indonesia punya kerentanan ganda. Harga minyak tinggi menekan neraca perdagangan dan APBN sekaligus, geopolitik Timur Tengah yang memanas bikin investor global kian risk averse. Kombinasi keduanya mendorong yield naik dan biaya refinancing pemerintah ikut membengkak. Ibarat pedang bermata dua: kurs lemah menaikkan ongkos utang lama, dan menutup akses murah untuk utang baru.

Harga emas dunia justru melemah tipis ke 4.748 dolar AS per troy ons, entah kebetulan atau tidak, tepat di saat aset berisiko seperti saham domestik kembali diminati. Pola klasik rotasi aset.

Pertanyaannya sekarang bukan sampai mana IHSG bisa rally. Yang lebih krusial: seberapa lama pemerintah mampu menjaga defisit tetap terkendali kalau tekanan rupiah dan harga minyak bertahan di level ini? Kalau data fiskal kuartal depan tidak membaik, jujur saja, ruang manuver makin sempit.