Rabu pagi (22/7/2026), rupiah langsung dibuka di zona merah. Mata uang Garuda melemah 0,17% ke Rp17.910 per dolar AS, berbalik dari penutupan Selasa di Rp17.880. Versi Antara mencatat pelemahan lebih dalam, 42 poin atau 0,13% ke Rp17.930, dari posisi penutupan Rp17.888. Dua angka, dua pendekatan pencatatan, tapi pesannya sama: rupiah tertekan.
Tekanan ini bukan milik rupiah sendirian. Baht Thailand paling dalam terkapar, amblas 0,21% ke THB 33,75 per dolar AS. Ringgit Malaysia menyusul dengan pelemahan 0,15% ke MYR 4,093. Dong Vietnam tergerus 0,08%, yuan China 0,07%, peso Filipina 0,06%, dolar Singapura 0,01%. Mayoritas menyerah.
Dua pengecualian menarik: won Korea Selatan dan dolar Taiwan justru menguat 0,10% masing-masing. Won bertengger di KRW 1.479,9, dolar Taiwan di TWD 32,294. Yen Jepang naik tipis 0,01% ke JPY 163,15, meski posisinya secara historis masih amat lemah.
Di balik semua ini, Indeks dolar AS (DXY) stabil di 101,174 pagi itu, setelah pada Selasa malam menguat 0,22% dan kembali menembus level psikologis 101. Greenback yang kuat mempersempit ruang gerak hampir semua mata uang Asia.
Lalu ada Timur Tengah. Dua kapal tanker pengangkut minyak mentah Arab Saudi ke Asia dilaporkan berbalik arah di Laut Merah setelah mendapat ancaman dari kelompok Houthi Yaman. Militer AS mengonfirmasi bahwa serangan terhadap Iran sudah memasuki malam ke-10 berturut-turut. Konflik yang memanjang ini bukan sekadar berita geopolitik biasa, imbasnya langsung terasa di harga energi global.
Minyak mentah AS melonjak 2,09% ke US$84,97 per barel. Brent menguat 1,88% ke US$90,90, bahkan sempat menyentuh US$91,99, tertinggi sejak 11 Juni. Kenaikan ini memutar balik narasi yang beberapa pekan lalu sempat memberi napas lega: optimisme kesepakatan damai AS-Iran yang sempat meredam harga minyak kini terbukti prematur. Bak gayung bersambut, tekanan inflasi yang sempat mereda kembali muncul ke permukaan.
Erik Bregar, Director of FX and Precious Metals Risk Management di Silver Gold Bull, Toronto, membaca situasi ini dengan tenang tapi serius. "Kami sekarang berada pada malam kesepuluh serangan di Iran, jadi pasar memperhitungkan situasi ini secara rasional," katanya kepada Reuters. Ia menambahkan, "The Fed hawkish, saya rasa pasar belum sepenuhnya menghargai itu. Semakin lama konflik ini berlangsung di Timur Tengah, risiko The Fed terdengar lebih hawkish akan semakin meningkat."
Data CME FedWatch memang bercerita sendiri. Peluang kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin pada rapat The Fed pekan depan melonjak dua kali lipat dalam sepekan, dari sekitar 11% menjadi 21,9%. Untuk rapat September, pasar mematok probabilitas kenaikan di 68,2%. Angka yang tidak main-main.
Satu celah diplomatik masih ada, kalau data ini bisa dipercaya: seorang pejabat senior Iran menyebut Teheran sudah menerima proposal gencatan senjata 10 hari dari mediator. Tapi selama realisasinya belum ada, pasar tidak akan tergoda spekulasi damai. Presiden Trump pun sudah menegaskan akan merespons jika blokade Houthi di Laut Merah benar-benar dieksekusi.
Bagi investor yang punya eksposur ke aset rupiah, pertanyaannya bukan apakah rupiah akan melemah lebih jauh. Yang lebih menentukan, seberapa cepat ketegangan di Timur Tengah menemukan titik redanya. Selama jalur pelayaran energi global masih terganggu dan The Fed masih mempertimbangkan kenaikan suku bunga, tekanan pada mata uang pasar berkembang seperti rupiah tidak akan hilang begitu saja.