RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Saham CPO Masih Punya Tenaga, Harga Sawit Tembus 4...

Finansial

Saham CPO Masih Punya Tenaga, Harga Sawit Tembus 4.986 Ringgit

Harga CPO global menguat dua hari beruntun hingga 4.986 ringgit per ton, ditopang sentimen biodiesel B50, potensi El Niño, dan eskalasi konflik Selat Hormuz. Saham-saham emiten sawit mencatat kenaikan signifikan sepanjang tahun.

Saham CPO Diprediksi Lanjut Menguat, Simak Rekomendasinya

Harga CPO di Bursa Malaysia Derivatives Exchange menyentuh 4.986 ringgit per metrik ton pada perdagangan Senin (7/9/2026), naik 1,16% dalam satu sesi dan melanjutkan penguatan untuk hari kedua berturut-turut. Secara year-to-date, harga minyak sawit mentah sudah melesat 21,70% sejak Januari. Bukan pergerakan harian biasa.

Dua pendorong utama datang sekaligus. Program biodiesel B50 yang resmi berjalan sejak 1 Juli 2026 menyedot porsi besar pasokan CPO domestik, sehingga volume ekspor Indonesia tercatat turun 6,97% secara tahunan hingga Juli 2026. Tapi nilainya justru melonjak, mencapai US$14,79 miliar. Pricing power menang atas volume. Di sisi pasokan, kekhawatiran El Niño mulai konkret: sejumlah riset memperkirakan fenomena cuaca ini bisa menekan produksi CPO Indonesia antara 1 hingga 2 juta ton.

Tambahkan konflik Selat Hormuz ke dalam kalkulasi. Eskalasi aksi saling serang Amerika Serikat dan Iran yang menyasar jalur pelayaran komersial di kawasan tersebut mendorong harga minyak mentah global naik, dan secara otomatis mempertebal daya saing CPO sebagai bahan baku biodiesel alternatif. Ketika energi fosil melambung, kelayakan ekonomi sawit di sektor energi makin sulit dibantah. Pelemahan ringgit Malaysia sebesar 0,15% terhadap dolar AS pada hari yang sama ikut mempermurah komoditas ini di mata pembeli internasional.

Sentimen positif dari Dalian turut menopang. Kontrak palm oil di bursa komoditas China itu menguat 1,06% sementara kontrak minyak kedelai naik 0,22%, karena CPO dan minyak nabati pesaingnya memang saling berkejaran memperebutkan pangsa pasar global.

Dampaknya langsung terasa di lantai bursa Jakarta. PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) memimpin dengan kenaikan 48,67% YTD, diikuti PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) yang menguat 41% YTD. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) naik 15,93%, sementara PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) membukukan kenaikan 6,49% YTD. Kinerja fundamental mendukung pergerakan ini: laba bersih AALI tumbuh 56,5% YoY di semester I, TAPG 20,5% YoY, LSIP 24,6% YoY, dan DSNG 9,3% YoY. Total laba bersih inti sektor sawit mencapai sekitar Rp5 triliun di paruh pertama 2026, tumbuh 11% dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai pasar saat ini lebih merespons faktor pricing power ketimbang volume ekspor. Penurunan ekspor tidak otomatis berarti penurunan pendapatan apabila average selling price terus naik, dan data semester I menunjukkan konsumsi domestik CPO tumbuh 5,5% YoY menjadi 12,9 juta ton. "Sebagian tekanan ekspor dapat dikompensasi oleh meningkatnya serapan domestik," ungkap Nafan.

Research Associate Panin Sekuritas Luthfi Novardiansyah menambahkan, implementasi B50 telah menggeser sebagian supply dari ekspor ke kebutuhan dalam negeri. Kondisi itu, agaknya, bakal berlanjut selama harga minyak fosil bertahan tinggi.

Ada sisi lain yang perlu dilihat lebih dekat. Untuk September 2026, pemerintah menetapkan bea keluar CPO sebesar US$148 per ton ditambah pungutan ekspor 12,5% atau sekitar US$125,94 per ton. Selisih antara harga pasar dan take-home margin produsen, dengan kata lain, tidak sekecil yang kelihatan di atas kertas. Risiko koreksi harga juga nyata. Kalau data ini bisa dipercaya penuh, importir besar seperti India bisa mulai sensitif terhadap level harga saat ini.

Nafan merekomendasikan add untuk DSNG dan LSIP, dengan target harga masing-masing Rp1.795 dan Rp1.875 per saham. Momentum ada, tapi siklus komoditas tidak pernah berjalan lurus.