RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Selat Hormuz Sembilan Pekan Lumpuh, Satu Miliar Ba...

Ekonomi

Selat Hormuz Sembilan Pekan Lumpuh, Satu Miliar Barel Minyak Menguap

Penutupan Selat Hormuz telah mengganggu pasokan hingga satu miliar barel minyak global. Dunia makin terancam resesi energi, sementara pasar dinilai masih meremehkan skala krisis yang sesungguhnya.

Sembilan pekan. Selama itu Selat Hormuz tertutup, dan kini dunia mulai merasakan gigilannya.

Gangguan pasokan minyak global akibat penutupan jalur strategis ini diperkirakan telah menyentuh satu miliar barel, angka yang cukup untuk membuat keseimbangan pasar energi global oleng. Pasokan minyak dunia diperkirakan telah anjlok 10%. Tidak ada solusi instan di cakrawala.

Bukan angka kecil.

Stok darurat global mulai sekarat. Sejak konflik memuncak pada akhir Februari, ratusan juta barel dari cadangan strategis sudah dilepas ke pasar. Negara-negara maju masih bisa bertahan sementara, tapi "sementara" adalah kata kuncinya. Begitu stok itu habis, tidak ada penyangga berikutnya.

"Permintaan mulai tergerus di sektor-sektor yang tidak langsung terlihat di pusat harga. Penyesuaian ini sudah terjadi, dan jika kondisi berlanjut, dampaknya akan semakin besar," ujar Kepala Ekonom Trafigura Group Saad Rahim, dikutip dari Bloomberg.

Dampak awal sudah kelihatan: industri petrokimia di Asia dan Timur Tengah mulai kesulitan, distribusi LPG di India terganggu. Kini tekanan itu merembet lebih jauh, ke transportasi dan konsumsi rumah tangga. Artinya, rakyat biasa ikut merasakannya, bukan cuma pabrik-pabrik besar.

Hanya ada dua opsi pahit. Harga naik sampai daya beli masyarakat menyerah, atau pemerintah turun tangan membatasi konsumsi energi secara paksa. Keduanya, entah kebetulan atau tidak, sama-sama resep menuju perlambatan ekonomi.

Eni SpA memberi sinyal yang lebih keras. CFO perusahaan energi Italia itu, Francesco Gattei, menilai pasar masih meremehkan dampak konflik Iran. Krisis ini, setidaknya itu klaimnya, berpotensi memberikan efek lebih besar dan bertahan lebih lama dibanding yang sudah tercermin dalam harga. Eni pun merevisi proyeksi harga minyak Brent 2026 menjadi US$83 per barel, naik dari estimasi sebelumnya di US$70. Harga gas Eropa, TTF Belanda, dikerek ke 50 euro per MWh dari 36 euro.

Revisi sebesar itu bukan kosmetik. Itu sinyal bahwa salah satu pemain terbesar industri energi Eropa memandang krisis ini jauh dari selesai.

Pertanyaannya sekarang sederhana: sampai kapan pasar bisa terus berpura-pura bahwa ini bukan masalah besar?