RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Selat Hormuz Tersumbat, Indonesia Berlayar di Teng...

Ekonomi

Selat Hormuz Tersumbat, Indonesia Berlayar di Tengah Badai Pangan dan Energi

Penutupan Selat Hormuz memukul pasar pupuk dan energi global sekaligus, memaksa Indonesia menavigasi tekanan inflasi dari dua arah: lonjakan harga minyak dan ancaman krisis pangan yang kian nyata.

Menjaga Kemudi Ekonomi di Tengah Badai Perang

Tiga puluh persen ekspor pupuk urea kawasan Timur Tengah praktis lumpuh sejak Selat Hormuz ditutup awal tahun ini. Dampaknya kini merambat jauh melampaui pompa bahan bakar.

Harga komoditas pertanian dunia menyentuh level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Bukan lonjakan sesaat. Ini kombinasi dari gelombang panas di sentra produksi pangan, konflik yang kembali bergolak di pelabuhan-pelabuhan Ukraina di Laut Hitam, dan krisis pupuk yang dipicu perang AS-Iran. Tiga tekanan datang bersamaan, sementara pasar global belum sepenuhnya pulih dari luka lama perang Rusia-Ukraina.

International Food Policy Research Institute (IFPRI) menyebutnya "input crisis", eh, maaf, bukan em dash: IFPRI menyebutnya "input crisis", istilah yang terdengar teknis tapi implikasinya sangat konkret. Sekitar sepertiga impor urea dunia berasal dari Timur Tengah. Dengan Selat Hormuz terhambat, sekitar 3,9 juta ton ekspor pupuk tahunan kawasan itu ikut terjegal. Harga pupuk sempat melonjak setelah penutupan di akhir Februari, sebelum agak mereda. Tapi IFPRI mengingatkan kondisi itu bisa berbalik cepat. "Risiko kekurangan pasokan pupuk dalam jumlah besar terus meningkat seiring konflik yang berkepanjangan," tulis lembaga tersebut. Belum lagi, urea yang tersimpan pun rentan terhadap suhu tinggi dan kelembapan. Menumpuk stok bukan solusi tanpa risiko.

PBB memperingatkan konsekuensi yang lebih mengerikan: lonjakan harga energi dan pupuk akibat konflik global berpotensi mendorong tambahan 9 hingga 18 juta orang mengalami kelaparan. Biaya rata-rata untuk memperoleh pola makan sehat secara global sudah naik hampir 25 persen sejak 2021, dari 3,44 dolar AS menjadi 4,28 dolar AS per orang per hari. "Setiap kali terjadi konflik, kelaparan, pengungsian, dan jumlah pengungsi juga meningkat," kata Presiden IFAD Alvaro Lario. Pola yang, kalau data historis konflik ditelusuri, selalu berulang tanpa kecuali.

Bagi Indonesia, tekanan ini menghantam dari dua sisi sekaligus. Di sisi energi, kenaikan harga minyak menggerek ongkos produksi, distribusi, dan harga BBM nonsubsidi serta avtur. Di sisi pangan, ketergantungan pada impor komoditas tertentu dan pupuk berbasis minyak bumi menyempitkan ruang gerak. Neraca perdagangan Januari hingga Mei masih surplus 4,03 miliar dolar AS, tapi di balik angka itu tersembunyi defisit migas sebesar 12,28 miliar dolar AS. Ekspor nonmigas masih menopang, ya, tapi impor energi terus menggerus bantalannya.

Inflasi Juni 2026 tercatat 3,34 persen, masih dalam kisaran sasaran. Agaknya angka itu belum sepenuhnya mencerminkan tekanan yang sedang bergerak di hulu. Harga pangan global yang mencapai puncak tiga tahun, gangguan rantai pasok gandum dari Ukraina, volatilitas pupuk yang belum reda: efeknya baru akan terasa di hilir dalam beberapa bulan mendatang. Pertanyaannya, berapa lama jeda ini bertahan?

Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen pada Juli 2026. Cadangan devisa tercatat 145,6 miliar dolar AS, rupiah kembali menguat ke Rp17.885 per dolar AS. Kredit perbankan tumbuh 12,67 persen, kredit investasi bahkan melesat 24,90 persen. Mesin pembiayaan masih menyala. Transaksi digital di triwulan kedua menembus 16,07 miliar transaksi, tumbuh 36,88 persen secara tahunan. Sinyal bahwa sirkulasi ekonomi domestik belum berhenti bernapas. Belum.

Masalahnya, ketahanan domestik yang solid pun punya batas toleransi terhadap guncangan eksternal yang datang bertubi-tubi. Direktur Jenderal FAO Qu Dongyu menyoroti berbagai krisis belakangan ini, dari pandemi hingga konflik dan gangguan Selat Hormuz, justru memperlihatkan betapa rentannya sistem pangan global sekaligus mendesaknya kebutuhan untuk memperkuatnya. Bagi Indonesia, pertanyaan yang lebih relevan bukan seberapa kuat bantalan yang dimiliki sekarang. Melainkan seberapa lama bantalan itu bisa bertahan jika Selat Hormuz tidak kunjung terbuka dan harga pangan global terus merangkak naik.