Senegal kini punya dua pusat kekuasaan, dan tidak ada yang yakin mana yang akan menang. Presiden Bassirou Diomaye Faye resmi memecat Perdana Menteri Ousmane Sonko setelah keduanya berbenturan keras soal cara menangani krisis utang yang sejak awal sudah mewarisi bom waktu dari rezim sebelumnya. Ini bukan sekadar pergantian kabinet biasa, ini awal dari persaingan yang bisa mengguncang stabilitas salah satu negara demokrasi paling diperhitungkan di Afrika Barat.
Akar masalahnya muncul September 2024, ketika pemerintahan baru menemukan catatan utang gelap yang tidak pernah dilaporkan rezim terdahulu. Estimasi IMF menempatkan utang tersembunyi itu di atas US$11 miliar, sementara sejumlah analis memperkirakan angka riilnya mendekati US$13 miliar, setara 25 persen dari total kewajiban negara. Angka resmi akhir 2024 sendiri sudah cukup mencekik: total utang Senegal mencapai US$42,15 miliar atau 119 persen dari PDB. Jujur saja, bukan main beratnya.
IMF merespons dengan membekukan program bantuan keuangan senilai US$1,8 miliar. Pasar langsung bereaksi brutal, obligasi dibuang massal, peringkat kredit nasional terpangkas. Untuk mencairkan kembali dana itu, IMF mensyaratkan Dakar mengatasi warisan utang gelap tersebut, menyepakati rencana stabilisasi fiskal yang kredibel, dan membuka kemungkinan restrukturisasi utang secara menyeluruh.
Di sinilah Faye dan Sonko berpisah jalan. Presiden memilih duduk langsung di meja negosiasi dengan IMF. Sonko menolak keras seluruh pendekatan itu, menyebut restrukturisasi sebagai "aib" dan mengusulkan jalan lain: negosiasi ulang kontrak minyak dan gas negara sebagai sumber pembiayaan alternatif. Konflik ideologis yang terlalu besar untuk ditampung dalam satu kabinet.
Namun pemecatan justru tidak melemahkan Sonko. Sebaliknya. Ia terpilih sebagai Ketua Majelis Nasional, didukung penuh oleh Partai PASTEF yang menguasai 130 dari 165 kursi parlemen. Mayoritas mutlak. Posisi itu membuat Sonko kini bisa memblokir hampir setiap kebijakan pemerintah, termasuk agenda fiskal yang sedang Faye perjuangkan. Parlemen bahkan sempat meloloskan amendemen pemilu yang membuka jalan bagi Sonko untuk maju dalam pilpres 2029, langkah yang agaknya bukan kebetulan datang sesaat setelah pemecatan.
Faye menanggapi dengan menunjuk Ahmadou Al Aminou Lo sebagai perdana menteri baru pada 25 Mei, sinyal bahwa fokus pemerintah tetap pada stabilisasi fiskal meski peta politik berubah drastis. Lesley Anne Warner dari Carnegie Endowment for International Peace mengingatkan bahwa rivalitas kedua tokoh ini berpotensi menghasilkan kombinasi stagnasi kebijakan dan volatilitas politik, yang efek buruknya bisa merembet keluar batas Senegal.
Bukan ancaman kosong. Posisi anti-IMF yang dipegang Sonko lebih senapas dengan kelompok junta militer di Mali, Burkina Faso, dan Niger daripada dengan blok ECOWAS yang selama ini menjadi poros demokrasi kawasan. Pertanyaannya, ke mana Senegal akan bersandar kalau dua kutub kekuasaan ini terus saling tarik? Hampir sepertiga dari total utang Senegal berbentuk obligasi dan pinjaman pemerintah, dengan separuh dari US$28 miliar utang luar negeri bersumber dari kreditor multilateral melalui skema konsesional. Hubungan dengan lembaga seperti IMF bukan pilihan strategis, ini kebutuhan struktural yang tidak bisa diabaikan.
Sementara Dakar masih sibuk merampungkan susunan kabinet baru, dana IMF tetap membeku. Pasar tidak akan menunggu lama.