Singapura belum tergoyahkan. Sepanjang Januari hingga Maret 2026, negeri singa itu masih tercatat sebagai sumber Penanaman Modal Asing (PMA) terbesar di Indonesia, diikuti Hong Kong dan China di posisi berikutnya.
Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menunjukkan total PMA di kuartal pertama tahun ini senilai Rp250,0 triliun, berkontribusi 50,1% dari keseluruhan realisasi investasi nasional. Tumbuh 8,5% secara tahunan. Lebih dari separuh. Angka yang tidak main-main, apalagi dengan tekanan eksternal yang belum juga mereda.
China makin agresif. Selama beberapa tahun terakhir, Beijing konsisten menaikkan eksposurnya ke pasar Indonesia, khususnya di sektor hilirisasi mineral dan manufaktur. Amerika Serikat dan Jepang pun disebut mulai memperketat pengamatan terhadap peluang investasi di sini, meski keduanya belum masuk tiga besar.
Singapura sendiri bukan sekadar investor murni. Banyak modal yang masuk lewat kota itu sebetulnya berasal dari investor institusional global yang menjadikannya pintu masuk ke Asia Tenggara. Dominasi Singapura di papan atas, entah kebetulan atau tidak, selalu berkorelasi dengan seberapa menarik Indonesia di mata fund manager regional.
Kuartal pertama 2026 agaknya memberi sinyal yang cukup positif: arus PMA masih mengalir deras, porsinya bahkan melewati separuh total investasi nasional. Pertanyaannya, berapa lama tren ini bertahan saat perang dagang dan volatilitas kurs belum benar-benar reda?
Buat investor pasar modal lokal, angka-angka ini punya relevansi langsung. PMA yang solid di sektor riil dan hilirisasi cenderung jadi katalis positif bagi emiten-emiten yang bermain di rantai pasok komoditas dan infrastruktur. Pergerakan China sebagai pemodal aktif juga patut diawasi ketat: setiap komitmen baru dari Beijing biasanya ikut menggerakkan sentimen saham nikel dan baterai. Bisa jadi itulah variabel paling panas di sisa 2026.