Stok beras nasional kini menyentuh 5,2 juta ton. Lebih dari tiga kali lipat cadangan saat El Nino melanda pada 2023-2024, ketika stok hanya berkisar 1,5 juta ton.
Angka itu diungkap Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat berkunjung ke ITS Cabang Buncitan, Sidoarjo, Rabu (22/7/2026). Kunjungan itu sekaligus jadi respons atas laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Timur yang mencatat 14 kabupaten telah menetapkan status darurat kekeringan. Sebelas di antaranya berstatus siaga darurat, termasuk Bondowoso, Lamongan, dan Banyuwangi. Tiga lainnya sudah masuk tanggap darurat: Lumajang, Mojokerto, dan Situbondo.
Amran tidak tampak panik. Kebutuhan beras selama musim kemarau biasanya sekitar 3 juta ton, sehingga surplus lebih dari 2 juta ton masih tersedia. Pemerintah juga mengklaim telah menyiapkan sistem irigasi untuk 900.000 hingga 1 juta hektar lahan, benih padi tahan kekeringan, pompanisasi sumur dalam, hingga perbaikan jaringan irigasi. Pompa sumur dalam sendiri ditargetkan 70.000 hingga 80.000 unit, tersebar di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.
"Dulu pada saat terjadi El Nino, kita ada stok beras nasional sekitar 1,5 juta ton. Sekarang ada sekitar 5,2 juta ton," ucap Amran. Pengalaman melewati El Nino 2015, 2023, dan 2024 diklaim telah membuat sistem antisipasi kekeringan jauh lebih matang dari sebelumnya.
Bukan cuma beras. Amran merinci bahwa Indonesia kini telah swasembada delapan komoditas pangan strategis: beras, jagung, cabai besar, cabai rawit, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah. Sejak 2025, Indonesia disebut tidak lagi mengimpor beras, dan sebagian komoditas bahkan mulai merambah pasar ekspor, klaim yang, kalau data realisasinya bisa dipercaya, cukup mengesankan.
Indikator lain ikut dipamerkan. Nilai Tukar Petani tercatat 127,73 pada Mei 2026, sementara PDB sektor pertanian tumbuh 5,74 persen. Kebijakan yang disebut mendorong capaian ini mencakup kenaikan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah, perbaikan distribusi pupuk, dan penurunan harga pupuk subsidi.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menegaskan hal senada dalam Sidang Kabinet Paripurna. "Kita sudah swasembada delapan komoditas pangan. Cadangan beras kita tertinggi selama sejarah NKRI. Nilai Tukar Petani kita tertinggi selama sejarah NKRI," tegasnya. Bagi Prabowo, ketahanan pangan bukan soal angka semata, melainkan soal harga diri bangsa.
Bagi investor yang mencermati sektor agribisnis dan emiten pupuk, narasi ini agaknya jadi angin segar, setidaknya untuk sentimen jangka pendek. Pertanyaannya, berapa lama surplus ini bertahan kalau kemarau berjalan lebih panjang dari perkiraan?