RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Telkom Siapkan Rp4 Triliun untuk Buyback, RUPS Jad...

Finansial

Telkom Siapkan Rp4 Triliun untuk Buyback, RUPS Jadi Penentu

PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) berencana membeli kembali sahamnya dengan dana maksimal Rp4 triliun dari kas internal, menunggu restu pemegang saham pada 8 Juni 2026.

Telkom gelar buyback saham Rp4 triliun, begini jadwalnya

Rp4 triliun. Itu angka yang disiapkan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) untuk program pembelian kembali saham, sebuah sinyal cukup tegas bahwa manajemen merasa harga saham emiten pelat merah ini belum mencerminkan nilai sesungguhnya.

Rencana buyback ini masih menunggu satu pintu terakhir: persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham pada 8 Juni 2026. Jika pemegang saham memberi lampu hijau, program buyback resmi berjalan mulai 9 Juni 2026 hingga 8 Juni 2027, dengan seluruh pendanaan bersumber dari kas internal perusahaan.

Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia, manajemen TLKM menyebut langkah ini diambil sebagai upaya menjaga keharmonisan antara kondisi pasar dan fundamental perseroan. Kalimat yang terdengar diplomatik, tapi pesannya jelas: mereka menganggap sahamnya undervalued.

Soal batas pembelian, TLKM tidak akan melampaui 10% dari total modal ditempatkan dan disetor. Batasan ini juga dirancang agar porsi saham free float setelah buyback tetap terjaga di atas 15%, sesuai ketentuan minimum yang ditetapkan bursa. Kerangka kehati-hatian yang memang wajib, bukan pilihan.

Manajemen mengklaim aksi korporasi ini tidak akan mengganggu operasional maupun kondisi keuangan perusahaan, mengingat posisi modal kerja dan arus kas TLKM dinilai memadai. Klaim yang agaknya masuk akal untuk emiten sebesar Telkom, meski pasar tentu akan menghitung sendiri.

Bagi investor ritel yang sudah lama nyangkut di TLKM, program ini setidaknya memberi angin segar. Secara teori, berkurangnya jumlah saham beredar bakal mendongkrak nilai per lembar yang tersisa. Apakah efeknya terasa dalam 12 bulan mendatang, itu pertanyaan lain. Jawabannya masih tergantung seberapa agresif manajemen merealisasikan anggaran Rp4 triliun itu.