Dua aksi borong besar terjadi hampir bersamaan di saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan keduanya berlangsung justru ketika harga sedang dihajar habis-habisan.
Dari sisi internal, Direktur TPIA Raymond tercatat melakukan pembelian bertahap sepanjang Mei 2026, mengumpulkan total 1,75 juta saham senilai Rp5,25 miliar. Aksi ini dimulai pada 19 Mei saat harga masih di kisaran Rp4.300 hingga Rp4.580, kemudian berlanjut ketika harga amblas ke level Rp2.000-an. Pada 22 Mei, Raymond kembali memborong 525.000 saham di harga Rp2.660 hingga Rp2.700. Tiga hari berselang, dia menambah lagi 600.000 saham di kisaran Rp2.270 hingga Rp2.280. Kepemilikannya kini tercatat 5,05 juta saham, naik dari posisi akhir April yang hanya 3,3 juta saham.
Katalis eksternal? Lebih besar lagi. SCG Chemicals Public Company Limited, raksasa petrokimia asal Thailand, masuk lewat keterbukaan informasi BEI pada Selasa, 2 Juni. Dalam satu transaksi melalui PT CGS International Sekuritas Indonesia, SCG Chemicals memborong lebih dari 9,14 miliar saham TPIA dan langsung menggenggam 10,57% saham perseroan. Resmi jadi pemegang saham signifikan.
Bukan kebetulan kecil, ini. Pemain industri petrokimia regional masuk dengan posisi sebesar itu, di titik harga seperti ini, agaknya melihat sesuatu yang belum direspons pasar.
Konteks penting: harga TPIA sudah tergerus sekitar 82% dalam satu tahun terakhir, jauh melampaui koreksi IHSG. Per penutupan 26 Mei, harga berada di Rp1.900 per saham, naik 8,02% dari hari sebelumnya, namun masih amblas 32,86% dalam lima hari. Valuasi sudah sangat tertekan, P/E di level 14 kali, PBV di 2 kali.
JPMorgan justru memilih momen ini untuk menaikkan rating dan target harga TPIA. Target direvisi naik 61%, dari Rp1.090 menjadi Rp1.750 per saham. Alasannya bertumpu pada tiga hal: valuasi yang sudah murah setelah koreksi dalam, fundamental yang mulai membaik, dan perkiraan bahwa tekanan jual dari keluarnya TPIA dari MSCI Standard Index sudah hampir selesai setelah rebalancing akhir Mei. Skenario yang familiar buat siapa pun yang pernah mengikuti siklus forced selling indeks global.
Soal fundamental, angkanya bukan kaleng-kaleng. Pada kuartal I-2026, TPIA membukukan pendapatan US$2,40 miliar, melonjak 285,80% secara tahunan. Laba bersih berbalik dari rugi US$23,6 juta pada kuartal I-2025 menjadi untung US$205,1 juta, rekor laba kuartalan tertinggi dalam sejarah perseroan. JPMorgan memperkirakan EBITDA penuh tahun 2026 bisa menyentuh US$1,3 miliar.
Rekor. Bukan sekadar pemulihan.
Transformasi ini sebagian besar bersumber dari akuisisi aset Shell Singapura bersama Glencore pada April 2025. Aset tersebut, kini dikenal sebagai Aster Energy and Chemicals Park, mencakup kilang minyak berkapasitas 237.000 barel per hari di Pulau Bukom plus kompleks petrokimia di Pulau Jurong. Hasilnya langsung terasa: segmen energi kini menyumbang sekitar 60% pendapatan TPIA, menggeser posisi petrokimia sebagai penopang utama. Total aset perseroan naik menjadi US$12,6 miliar, ekuitas tumbuh 58%, dan likuiditas bertambah 41%.
Masih ada katalis lain yang sedang berjalan. Proyek Chlor-Alkali & Ethylene Dichloride (CA-EDC) senilai US$892 juta melalui PT Chandra Asri Alkali sudah mencapai progres konstruksi 66% per Mei 2026. Pabrik ini ditargetkan beroperasi komersial pada kuartal I-2027, dengan kapasitas 827.000 ton soda kaustik per tahun dan 500.000 ton EDC per tahun. Bila berjalan sesuai jadwal, proyek ini berpotensi memangkas impor soda kaustik Indonesia hingga US$293 juta per tahun sekaligus membuka pasar ekspor EDC senilai US$300 juta per tahun.
Pertanyaannya, berapa lama cerita ini bisa tetap bersih dari kejutan?
BEI juga mengumumkan TPIA masuk ke papan utama mulai 29 Mei 2026, bersama 25 saham lain dalam evaluasi periodik bursa. Perubahan papan perdagangan ini sifatnya administratif, tapi sedikit banyak memengaruhi komposisi basis investor yang bisa masuk.
Dengan direksi yang cicil dari dalam, pemain industri regional yang masuk besar dari luar, dan bank investasi global yang memvalidasi cerita turnaround ini, soal murah atau tidak sudah bukan debat utama. Yang tersisa cuma satu: apakah katalis-katalis yang sudah terdaftar rapi itu benar-benar terealisasi sesuai jadwal, atau meleset seperti biasanya.