Sepanjang Mei 2026, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) ambruk 66,32%, salah satu koreksi terdalam di antara emiten-emiten Grup Barito yang ikut terseret IHSG turun hampir 12%. Anehnya, jumlah pemegang saham justru melonjak 11.469 SID atau 42,5% di periode yang sama. Investor ritel, entah nekat atau jeli, malah nambah koleksi.
Kini ceritanya bergeser. Pada pekan pertama Juni, SCG Chemicals Public Company Limited (SCGC) melepas sekitar 2,29 miliar saham TPIA, setara 14,86% kepemilikan. Porsi SCGC di perusahaan petrokimia milik konglomerat Prajogo Pangestu ini turun dari 29,38% menjadi sekitar 15,71%. Konsekuensinya, free float TPIA melesat dari sekitar 10,56% menjadi 25,7%. Angka yang langsung mengubah kalkulasi banyak fund manager.
Sebagai konteks, per Mei 2026 tiga saham Grup Barito masih belum memenuhi ambang batas free float 15% yang ditetapkan BEI, yakni BREN (12,58%), TPIA (10,56%), dan CDIA (9,87%). Transaksi SCGC ini sekaligus menuntaskan satu masalah regulasi yang lama menggantung.
Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menilai kenaikan free float ini sebagai sinyal yang ditunggu-tunggu investor institusi. Investor besar seperti dana pensiun, manajer investasi, dan global funds punya filter ketat sebelum masuk ke sebuah saham, salah satunya soal free float. "Ketika free float sudah berada di atas ambang batas tertentu, misalnya di atas 15%, maka saham tersebut menjadi lebih layak untuk masuk dalam radar investasi mereka," ucap Nafan.
Satu aspek yang agaknya paling menggelitik perhatian fund manager global: soal bobot indeks. Free float adalah salah satu variabel kunci dalam perhitungan MSCI dan FTSE Russell. Jika bobot TPIA di indeks tersebut naik, passive funds yang menjadikan indeks itu sebagai benchmark akan terpaksa membeli saham ini secara otomatis. "Jika itu terjadi, maka dapat memicu aksi beli dari passive funds yang menjadikan MSCI maupun FTSE sebagai acuan investasi," tambah Nafan.
Pasar sudah mulai merespons. Pada sesi pertama perdagangan Jumat (12/6), TPIA menguat 5,60% ke level Rp1.885, dengan nilai transaksi Rp673,73 miliar dan frekuensi 41.957 kali. Hari sebelumnya, meski harga masih tergerus 1,38%, investor asing tercatat net buy Rp97,18 miliar, berbalik dari dua sesi sebelumnya yang terus net sell. Sinyal kecil, tapi pasar biasanya tidak bohong.
Presiden Direktur dan CEO Chandra Asri Group, Erwin Ciputra, menyatakan kenaikan free float ini sejalan dengan komitmen perusahaan memperluas basis investor. "Peningkatan free float tidak hanya mendukung pemenuhan ketentuan regulator pasar modal, tetapi juga memperkuat likuiditas saham dan meningkatkan daya tarik TPIA di mata investor," kata Erwin dalam keterangannya, Senin (8/6/2026).
Satu momentum lagi yang menambah daya pikat TPIA: per 27 Mei 2026, BEI resmi memindahkan saham ini dari Papan Pengembangan ke Papan Utama, bersama 25 emiten lainnya. Bagi Erwin, ini bukan sekadar label. Pencatatan di Papan Utama membuka akses ke kelas investor yang berbeda, dan memberi ruang lebih besar ketika perusahaan nantinya perlu masuk pasar lewat rights issue atau penerbitan obligasi.
Fenomena yang sama persis terjadi di saham lain satu grup. CUAN mencatat kenaikan 17.348 SID meski harga amblas 47,5% di Mei. CDIA justru kehilangan 2,56% pemegang saham di bulan yang sama. Bisa jadi investor ritel punya tesis sendiri soal mana yang layak diakumulasi saat pasar panik. Pertanyaannya, berapa lama tesis itu bertahan?