Turun, tapi jangan terburu senang dulu. BPS merilis data ketenagakerjaan per Februari 2026 yang memperlihatkan jumlah pengangguran menyusut tipis menjadi 7,24 juta orang, berkurang 35 ribu jiwa dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunannya nyata, tapi tidak bisa dibilang dramatis.
Tingkat Pengangguran Terbuka atau TPT tercatat di angka 4,68 persen. Dalam bahasa sederhana: dari setiap 100 orang angkatan kerja, sekitar lima di antaranya belum mendapat pekerjaan. Data ini dirilis BPS pada Selasa, 5 Mei 2026.
"Angkatan kerja yang tidak terserap pasar kerja menjadi pengangguran yaitu sebanyak 7,24 juta orang. Jumlah yang menganggur ini mengalami penurunan sebesar 35 ribu orang dibandingkan Februari 2025," kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti.
BPS mendefinisikan pengangguran secara cukup luas: penduduk usia 15 tahun ke atas yang tidak bekerja dan sedang mencari kerja, tengah mempersiapkan usaha baru, sudah diterima bekerja tapi belum mulai, sampai mereka yang sudah menyerah mencari pekerjaan. Definisi ini menentukan siapa yang masuk hitungan dan siapa yang tidak.
Soal sebaran geografis, Papua memimpin dengan TPT tertinggi di angka 7,02 persen, hampir satu setengah kali rata-rata nasional. Kepulauan Riau menyusul di posisi kedua dengan 6,87 persen, dan Jawa Barat di urutan ketiga dengan 6,64 persen. Dua besar ini agaknya mencerminkan tantangan yang berbeda karakter: Papua terhimpit keterbatasan infrastruktur dan minimnya akses pasar kerja formal, sedangkan Kepri sangat bergantung pada industri dan pariwisata yang fluktuatif.
35 ribu orang. Kecil, kalau dibandingkan angkatan kerja nasional yang mencapai ratusan juta. Tapi arah tren sudah benar. Yang kini perlu dicermati bukan sekadar angka TPT-nya, melainkan kualitas penyerapannya: apakah mereka yang "terserap" masuk ke pekerjaan formal dengan upah layak, atau sekadar beralih ke sektor informal demi keluar dari kategori pengangguran? BPS belum merinci soal komposisi ini dalam rilis terbaru, dan itu pertanyaan yang tidak bisa terus diabaikan.