RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  ULN Indonesia Tembus Rekor US$439,8 Miliar, BI Kla...

Ekonomi

ULN Indonesia Tembus Rekor US$439,8 Miliar, BI Klaim Masih Sehat

Utang luar negeri Indonesia per April 2026 menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah di US$439,8 miliar atau sekitar Rp7.881 triliun, dengan pertumbuhan tahunan yang mengakselerasi ke 1,9 persen.

BI Lapor Utang Luar Negeri RI di Rp7.881 Triliun per April - Market

Rekor lagi. Bank Indonesia mencatat posisi utang luar negeri Indonesia per akhir April 2026 menembus US$439,8 miliar, setara sekitar Rp7.881 triliun berdasarkan kurs acuan BI pada 12 Juni. Bukan sekadar angka tertinggi bulan ini, tertinggi sepanjang sejarah pencatatan ULN oleh bank sentral.

Dibanding Maret yang tercatat US$433,9 miliar, kenaikan April sekitar US$5,9 miliar. Tidak jumbo, tapi konsisten. Secara tahunan, ULN April tumbuh 1,9 persen yoy, lebih kencang dari pertumbuhan Maret yang hanya 1 persen yoy. Akselerasi yang, kalau dicermati, mulai terasa nyata.

Komposisinya menarik. Kenaikan ini hampir seluruhnya ditopang sektor publik, sementara swasta justru berjalan ke arah sebaliknya. BI, lewat Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Ramdan Denny Prakoso, menyebut perkembangan posisi ULN dipengaruhi oleh dinamika sektor publik dan swasta secara bersamaan. ULN pemerintah per April tercatat US$216,4 miliar, tumbuh 3,7 persen yoy, sedikit melambat dari 3,8 persen di Maret tapi tetap ekspansif. Bank sentral mencatat pertumbuhan pinjaman luar negeri pemerintah mulai melandai, sedangkan aliran masuk asing ke Surat Berharga Negara masih mencatatkan net inflow yang oleh BI dibaca sebagai sinyal kepercayaan investor yang terjaga.

ULN swasta? US$193,2 miliar, masih kontraksi 0,7 persen yoy. Tapi lebih lunak dari kontraksi 1,4 persen di Maret, jadi agaknya tekanan pelan-pelan mereda. Pendorong utama penyusutan itu ada di kelompok lembaga keuangan, yang mencatat kontraksi 5,0 persen yoy, turun dari 6,3 persen bulan sebelumnya.

BI berkukuh struktur ULN masih sehat. Dua angka yang selalu jadi pegangan: rasio ULN terhadap PDB stabil di 29,6 persen, dan 84,5 persen dari total ULN berjangka panjang. Angka yang memang tidak mengkhawatirkan secara teknis. Tapi klaim "sehat" ini, setidaknya perlu diperlakukan dengan sedikit skeptis, mengingat tren pertumbuhan yang kembali mengakselerasi setelah sempat jinak di kuartal pertama.

Pertanyaannya, berapa lama tren ini bisa dijaga? Buat pemegang SBN dan pelaku pasar obligasi, sinyal net inflow asing yang disebut BI jadi satu hal yang bisa dipegang sementara. Tapi dengan rekor ULN dan keseimbangan primer APBN yang masih negatif, ruang untuk terlalu nyaman belum ada.