RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  UMKM Bintan Dipacu Masuk Rantai Pasok Wisata, Wism...

Ekonomi

UMKM Bintan Dipacu Masuk Rantai Pasok Wisata, Wisman Tumbuh 38,5%

Kementerian UMKM mendorong pelaku usaha lokal Bintan masuk rantai pasok pariwisata seiring lonjakan wisman 38,5% hingga Mei 2026. DPR menyoroti potensi pasar Asia dan Eropa yang belum tergarap maksimal.

Pemerintah dorong UMKM masuk rantai pasok pariwisata Bintan

Wisatawan mancanegara yang masuk ke Bintan melonjak 38,5 persen secara tahunan hingga Mei 2026, mencapai 109.090 orang. Cukup besar. Tapi pertanyaan yang lebih penting bukan soal angkanya, soal ke mana uangnya pergi.

Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah turun langsung ke Kabupaten Bintan dalam agenda Kunjungan Kerja Reses Komisi VII DPR RI, Kamis lalu. Staf Ahli Menteri UMKM Bidang Hukum dan Kebijakan Publik Reghi Perdana menegaskan bahwa pertumbuhan kunjungan wisatawan tidak boleh hanya menjadi statistik pemerintah daerah. Hotel, resort, restoran, pusat oleh-oleh, hingga penyelenggaraan kegiatan wisata, ungkapnya, harus makin terbuka bagi produk-produk UMKM lokal.

"Pariwisata memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi UMKM sebagai bagian dari ekosistemnya," tegas Reghi. Ukuran keberhasilan sektor wisata, lanjutnya, bukan semata jumlah kepala yang datang, tetapi seberapa besar nilai tambah yang bisa dinikmati masyarakat lewat keterlibatan usaha lokal.

Datanya, kalau bisa dipercaya sebagai cermin kondisi riil, cukup menjanjikan. Kabupaten Bintan punya 55 hotel dan resort, serta 219 destinasi wisata yang mencakup 131 objek wisata alam, 54 wisata kuliner, 14 wisata religi, 10 sentra cendera mata, lima wisata budaya, tiga wisata pendidikan, dan dua wisata pertanian. Wisatawan nusantara pun ikut bergerak, mencapai 339.425 orang atau tumbuh 15,17 persen pada periode yang sama.

Bupati Bintan Roby Kurniawan menyatakan pemerintah daerah terus memacu daya saing kawasan melalui pembangunan infrastruktur, promosi, dan pengembangan destinasi berbasis masyarakat. "Dengan infrastruktur, promosi, dan aksesibilitas yang semakin baik, kami optimistis sektor pariwisata akan memberikan manfaat ekonomi yang semakin besar bagi masyarakat," ujar Roby. Ia berharap dukungan pemerintah pusat tidak kendur.

Ada catatan kritis yang agaknya tidak bisa diabaikan begitu saja. Anggota Komisi VII DPR RI Tifatul Sembiring menyoroti bahwa selama ini orientasi pengembangan pariwisata nasional masih condong ke selatan, yakni Bali dan Nusa Tenggara Barat, dengan target utama wisatawan asal Australia dan Selandia Baru yang populasi gabungannya sekitar 32,5 juta jiwa.

Bintan dan kawasan utara Indonesia, menurut Tifatul, justru berhadapan langsung dengan pasar yang jauh lebih gemuk: China, India, Jepang, Korea Selatan, negara-negara ASEAN, hingga Eropa, yang total penduduknya mencapai ratusan juta hingga miliaran jiwa. Potensi itu, setidaknya itu klaim Tifatul, belum digarap serius. "Potensi yang dimiliki Kabupaten Bintan perlu terus ditingkatkan supaya mampu menjadi destinasi unggulan bagi wisatawan dari kawasan Eropa maupun ASEAN," sebut dia.

Pertanyaannya, berapa lama Bintan masih bermain di lini bawah potensinya?

Untuk memperkuat sisi suplai, Kementerian UMKM memperluas program pemberdayaan yang mencakup pendampingan usaha, sertifikasi produk, akses pembiayaan, digitalisasi, pelatihan, inkubasi bisnis, hingga pengembangan Pusat Layanan Usaha Terpadu di Bintan. Reghi menekankan bahwa pelaku UMKM perlu naik kelas dari sisi kualitas produk dan kapasitas usaha agar mampu bersaing memperebutkan kontrak rantai pasok industri wisata yang nilainya terus membesar. "UMKM perlu terus meningkatkan kualitas produk, kapasitas usaha, dan daya saing agar mampu memanfaatkan peluang tersebut secara optimal sekaligus menjadi bagian penting dalam rantai pasok industri pariwisata," katanya.

Strukturnya sudah ada. Angkanya mulai bergerak. Yang masih jadi pekerjaan rumah adalah memastikan manfaatnya tidak hanya berputar di lapisan atas ekosistem pariwisata, tapi benar-benar merembes ke pelaku usaha kecil di bawahnya.