Pendapatan minyak Venezuela tembus 1 miliar dolar AS. Dana itu tidak lagi parkir di rekening berbasis Qatar. Bagi sebagian orang, itu sudah sinyal yang cukup.
Bagi Mike Wirth, belum.
CEO Chevron itu memang melihat ada sesuatu yang berbeda di Caracas sejak pemerintahan Trump menggulingkan Nicolás Maduro pada Januari 2026. Kepemimpinan sementara kini di tangan Delcy Rodríguez, yang langsung membalik kebijakan nasionalistik minyak era Maduro supaya lebih ramah modal asing. Gerakannya cepat. Niatnya jelas.
Tapi Wirth tidak mau terburu-buru. "Itu mengarah ke arah yang positif. Tapi masih perlu perbaikan. Kemungkinan belum cukup untuk menarik tingkat investasi yang diinginkan. Jadi saya melihat memang ada kemajuan," kata Wirth.
Chevron bukan satu-satunya yang melirik. Pekan lalu, sejumlah eksekutif perusahaan minyak Amerika Serikat terbang ke Caracas, bertemu langsung dengan Rodríguez untuk meminta satu hal: kepastian hukum atas aset mereka. Pertemuan itu sendiri sudah bicara banyak tentang seberapa serius industri menatap Venezuela.
Alasannya masuk akal secara strategis. Venezuela duduk di atas cadangan minyak terbesar di dunia, tapi infrastrukturnya babak belur setelah bertahun-tahun salah kelola. Wirth menyebut pemulihan produksi di sana akan langsung berdampak pada ketahanan energi Amerika, bukan sekadar soal bisnis. "Peningkatan produksi di sana akan meningkatkan keandalan energi dan pasokan di Amerika Serikat," tegasnya.
Masalahnya, ada warisan pahit yang tidak bisa diselesaikan dalam semalam.
Exodus tenaga ahli selama satu dekade meninggalkan lubang besar di kapasitas teknis industri. Insinyur pergi, teknisi pergi, ladang-ladang tua butuh rehabilitasi serius. Wirth juga mengomentari langkah Trump yang menggunakan Defense Production Act untuk mempercepat proyek energi nasional, dan responsnya lugas: industri migas tidak bekerja seperti menekan tombol on. "Anda tidak bisa langsung menyalakan produksi begitu saja. Dibutuhkan rekayasa, rantai pasok, kontrak, serta mobilisasi tenaga kerja," katanya.
Rp2,3 triliun atau berapapun angkanya nanti, modal yang dibutuhkan untuk menghidupkan kembali infrastruktur Venezuela yang terbengkalai itu tidak kecil. Laporan industri pun memperkuat kekhawatiran itu: ketidakpastian regulasi domestik masih membayangi, dan suntikan kapital yang diperlukan, agaknya, jauh lebih besar dari yang publik bayangkan.
Venezuela sedang membuka pintu, kalau data ini bisa dipercaya. Pertanyaannya, apakah pintunya sudah cukup lebar untuk investasi skala besar, atau sekadar cukup untuk bikin eksekutif minyak mau naik pesawat ke Caracas?