Sejak diluncurkan September 2023, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia belum pernah menawarkan imbal hasil setinggi ini. Yield SRBI tenor 12 bulan menyentuh 7,57 persen pada pekan ini, rekor baru yang datang bersamaan dengan kenaikan BI Rate 25 basis poin ke level 5,5 persen pada Rapat Dewan Gubernur Mei 2026.
Angka itu terpaut cukup jauh dari yield Surat Utang Negara tenor satu tahun yang hanya bergerak tipis ke 7,26 persen. Selisih 31 basis poin bukan angka kecil di instrumen jangka pendek. Bagi investor global yang bermain carry trade, spread sekecil itu pun sudah cukup untuk jadi argumen masuk.
Buktinya ada di data kepemilikan. Porsi non-residen di SRBI melonjak 43,6 persen hanya dalam dua bulan, dari Rp150,79 triliun pada akhir Februari ke Rp216,48 triliun di Mei 2026. Investor asing menambah kepemilikan sekitar Rp65,69 triliun dalam rentang waktu yang relatif singkat. Total outstanding SRBI sendiri sudah menembus Rp979,88 triliun, tumbuh 17,1 persen dari posisi Februari.
Bank Indonesia agaknya berhasil pada satu front: menjaring modal asing untuk menjaga stabilitas rupiah. Masuknya dana non-residen ke instrumen berbasis rupiah mencerminkan persepsi bahwa risiko nilai tukar masih terkelola, atau setidaknya masih lebih menarik ketimbang memarkir dana di instrumen denominasi dolar dengan yield yang juga sedang tertekan.
Di sisi lelang, gambarannya berbeda. Penawaran yang masuk pada lelang 10 Juni justru susut 28 persen menjadi Rp35,59 triliun, dari Rp49,44 triliun di lelang tanggal 5 Juni. Jumlah dana yang diserap BI ikut amblas, dari Rp30 triliun menjadi Rp15 triliun. Yield naik, penawaran turun. Bisa jadi pasar sudah mematok ekspektasi yield yang lebih tinggi lagi, kalau data ini bisa dipercaya sebagai sinyal, arahnya jelas.
Yang lebih mengkhawatirkan justru persoalan struktural yang berkembang diam-diam. Perbankan domestik kini menguasai 69,2 persen dari total outstanding SRBI, setara Rp677,89 triliun. Dana likuiditas perbankan, alih-alih mengalir ke kredit sektor riil, lebih banyak diparkir di instrumen bank sentral yang menawarkan imbal hasil kompetitif dengan risiko mendekati nol.
Paradoks. BI menaikkan yield untuk menarik modal asing dan menjaga rupiah, tapi efek sampingnya adalah likuiditas domestik yang makin tersedot ke instrumen moneter ketimbang ke pinjaman produktif. Bak pedang bermata dua.
Dampaknya mulai terasa di pasar obligasi korporasi. "Saat ini, aktivitas bookbuilding obligasi dan sukuk korporasi lebih sepi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," kata Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas. Kalau yield tenor pendek terus mengejar imbal hasil SRBI, beban bunga penerbitan obligasi korporasi bakal ikut membengkak, dan itu bisa menahan gelombang penerbitan surat utang di paruh kedua tahun ini.
Bagi investor ritel yang melirik instrumen fixed income, yield SRBI di level ini tentu menggiurkan. Tapi instrumen ini tidak bisa diakses langsung oleh publik umum, hanya lewat perbankan dan lembaga keuangan tertentu. Pertanyaannya: sampai kapan bank sentral bersedia membayar mahal untuk menahan rupiah tetap di jalurnya?