Hanya dalam lima hari, yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) melompat 30-32 basis poin di semua tenor. Bukan sekadar statistik lelang biasa, angka ini sinyal bahwa BI serius membayar mahal demi menarik kembali aliran modal asing yang sempat cabut.
Pada lelang 10 Juni 2026, rata-rata yield yang dimenangkan untuk tenor 6 bulan tercatat 7,20%, tenor 9 bulan di 7,35%, dan tenor 12 bulan menembus 7,57%. Dibandingkan lelang sebelumnya pada 5 Juni, kenaikannya cukup mencolok: tenor 6 bulan naik dari 6,90%, tenor 9 bulan dari 7,04%, dan tenor 12 bulan dari 7,25%. Posisi yield 12 bulan saat ini tercatat sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah SRBI, sejak instrumen ini diluncurkan September 2023.
BI baru saja menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 5,50% awal pekan ini, setelah sebelumnya sudah mengerek BI Rate pada RDG Mei. Kombinasi kenaikan bertahap ini, agaknya, mulai dirasakan efeknya di pasar.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengonfirmasi bahwa kenaikan BI Rate dan penguatan imbal hasil SRBI serta SBN mulai direspons positif investor asing. "Aliran masuk modal asing juga mulai kembali terjadi di pasar SBN, terutama pada tenor pendek dan menengah," kata Ramdan, Jumat (12/6/2026).
Data kepemilikan asing mendukung pernyataan itu. Per Mei 2026, outstanding SRBI mencapai Rp979,88 triliun, naik 17,1% dari posisi akhir Februari sebesar Rp837,22 triliun. Dari jumlah itu, kepemilikan non-residen tercatat Rp216,48 triliun, melonjak 43,6% dibanding Februari yang masih Rp150,79 triliun. Dalam kurang dari tiga bulan, investor asing menambah posisi sekitar Rp65,69 triliun. Masif.
Perbankan domestik justru semakin dominan. Kepemilikan bank di SRBI per Mei 2026 sudah menyentuh Rp677,89 triliun, bertambah Rp88,47 triliun sejak akhir 2025, setara 69,18% dari total outstanding. Bukan kebetulan. Dengan yield yang makin tinggi dan risiko kredit yang dirasakan kian besar, bank-bank lebih nyaman menaruh dana di SRBI ketimbang mendorong penyaluran pinjaman. Kredit perbankan per April memang masih tumbuh 9,9% secara tahunan, tapi pertumbuhannya lebih banyak ditopang bank-bank Himbara. Gambaran yang sedikit mengkhawatirkan bagi intermediasi.
Meski yield naik, penawaran masuk pada lelang 10 Juni justru amblas 28% menjadi Rp35,59 triliun dari Rp49,44 triliun di lelang sebelumnya. Nilai yang dimenangkan pun menyusut dari Rp30 triliun menjadi Rp15 triliun. Apakah ini sinyal kejenuhan pasar, atau sekadar fluktuasi teknikal? Beberapa lelang ke depan akan menjawabnya.
Pada SBN, kenaikan yield bahkan lebih dramatis. Tenor 10 tahun berada di 7,479% pada 10 Juni, melesat sekitar 78,4 basis poin dari posisi akhir Mei di 6,695%. Tenor 30 tahun naik 49,5 basis poin ke 7,451%. Ibarat pedang bermata dua yang sudah lama diketahui pasar: yield tinggi menarik modal asing dan mendukung rupiah, tapi sekaligus membengkakkan beban bunga utang pemerintah. Kalau tren ini bertahan, tim APBN punya pekerjaan rumah yang tidak kecil.